Ini Alasan Pasar Obligasi Bakal Menguat di Pengujung Tahun

Sejumlah analis memproyeksikan keuntungan investasi dari pasar obligasi pada 2018 bakal negatif, kendati pasar berpotensi mengalami penguatan pada sisa tahun ini.
Emanuel B. Caesario | 12 Oktober 2018 01:17 WIB
SURAT UTANG NEGARA

Bisnis.com  JAKARTA — Sejumlah analis memproyeksikan keuntungan investasi dari pasar obligasi pada 2018 bakal negatif, kendati pasar berpotensi mengalami penguatan pada sisa tahun ini.

Berdasarkan data Asian Bonds Online, yield SUN 10 tahun Indonesia hingga Rabu (10/10) sudah berada pada level 8,55%, meningkat 222,7 bps secara year to date (ytd)Peningkatan yield Indonesia berada sedikit di bawah Filipina yang mencapai 230,0 bps ytd ke level 8,00%.

Sementara itu, negara-negara lainnya yang turut dipantau Asian Bonds Online hanya menunjukkan peningkatan kurang dari 100 bps secara ytd, seperti Malaysia (19,4 bps), Singapura (63,1 bps), dan Thailand (53,3 bps).

Hingga Rabu (10/10), return di pasar obligasi Indonesia tercatat negatif. Indeks Obligasi Komposit Indonesia (ICBI) tercatat mengalami penurunan 5,0% ytd dan -2,17% yoy.

Indeks obligasi pemerintah atau INDOBex-G Total Return turun lebih dalam yakni -5,85% ytd dan -3,04% yoy, sedangkan indeks obligasi korporasi atau INDOBex-C Total Return masih positif dengan pertumbuhan 0,31% ytd dan 3,29% yoy.

I Made Adi Saputra, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas, memperkirakan bahwa hingga akhir tahun ini pasar surat berharga negara atau SBN masih mencatatkan kinerja negatif dengan total return antara -1,25% hingga -3,71%.

Made mengatakan, proyeksi tersebut didasarkan atas perkiraan yield SUN hingga akhir tahun ini akan menguat dibandingkan dengan posisi saat ini. Menurutnya, hingga akhir tahun, yield SUN 10 tahun berpotensi menuju 8,10%.

Sementara itu, yield obligasi dengan tenor 4 tahun berada pada level 7,85%,  obligasi15 tahun 8,32%, dan obligasi 20 tahun sebesar 8,39%.

Made mengatakan, berdasarakan data historis, peluang terjadi koreksinya SBN adalah pada November, sedangkan pada Oktober dan Desember ada potensi penguatan kinerja. Ada tiga faktor yang bisa diharapkan menjadi penopangnya.

Pertama, tekanan eksternal sehubungan dengan Rapat Dewan Gubernur The Fed akan relatif mereda, sebab pasar sudah mendapat kejelasan akan adanya sekali lagi kenaikan pada akhir tahun. Adanya kejelasan membuat investor mulai dapat kembali akumulasi beli.

Akumulasi beli ini biasanya didukung oleh kurs yang akan mulai stabil. Made memprediksi, pada akhir 2018 kurs rupiah berada pada posisi Rp14.600 per dolar AS dengan yield US Treasury 10 tahun pada kisaran 3,15% dan suku bunga acuan The Fed pada level 2,50%.

Kedua, pasokan SBN mulai terbatas di pasar perdana, seiring strategi front loading pemerintah. Investor yang diharuskan memenuhi kewajiban penempatan di SBN akan membeli melalui pasar sekunder sehinga mendorong perbaikan kinerja.

Berdasarkan data realisasi penerbitan SBN per 19 September 2018, Made memperkirakan sisa penerbitan SBN yang harus dipenuhi pada kuartal keempat mencapai Rp125 triliun – Rp150 triliun.

Ketiga, pelaku pasar akan berusaha memperbaiki kinerja portofolionya di akhir tahun atau melakukan window dressing.

“Meskipun bukan merupakan kinerja terbaiknya di sepanjang tahun, adanya window dressing setidaknya akan membantu memperbaiki kinerja pasar surat utang secara keseluruhan di tahun 2018,” kata Made dalam Kompendium Riset September 2018, dikutip Kamis (11/10).

Maximilianus Nico Demus, Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia, memperkirakan yield SUN 10 tahun hingga akhir tahun ini berpotensi ke level 8,35% - 8,55% dengan estimasi kurs ke level Rp14.900.

Nico mengatakan, secara jangka pendek dan menengah, ada potensi yang cukup besar bagi pasar untuk menguat sebelum pada akhirnya melemah lagi ketika menyambut kenaikan suku bunga The Fed pada akhir tahun. Hal ini  terlihat dari tingkat koreksi pekan ini yang tidak separah pekan sebelumnya.

Selain itu, lanjutnya, beberapa kebijakan yang dilakukan pemerintah seharusnya sudah menunjukkan hasil, walaupun mungkin tidak besar.

“Kami melihat bahwa seharusnya apa yang sudah dipersiapkan pemerintah akan lebih memberikan perlawanan terhadap efek dari kebijakan normalisasi yang dilakukan oleh The Fed,” katanya.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, lebih optimistis dengan proyeksi yield SUN 10 tahun di level 7,8% - 7,9% di akhir tahun ini. Proyeksi ini didasarkan asumsi kurs rupiah akan lebih stabil di kisaran Rp15.000 per dolar AS, walaupun untuk menguat lebih jauh cukup berat.

“Kalau rupiah kita bisa stabil saja di bahwa Rp15.000 dan tidak lagi bergejolak, saya rasa market kita akan cenderung menguat. Namun, kalau kurs ini melorot lebih dalam, itu yang akan memberatkan penguatan di pasar obligasi kita,” katanya.

Ramdhan mengatakan, yield SUN Indonesia sebenarnya cukup menarik bagi investor asing. Saat ini, asing terlihat mulai kembali masuk ke pasar obligasi dan tercatat net buy Rp13,45 triliun dibandingkan posisi akhir 2017.

Selain itu, upaya OJK yang selalu memberi peringatan kepada institusi keuangan non-bank untuk memenuhi kewajiban alokasi investasi di SBN membuat investor lokal ini cenderung selalu melakukan aksi beli yang besar di akhir bulan. Hal ini mendukung penguatan pasar domestik.

 

Tag : Obligasi
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top