IHSG Terseret Pelemahan Global, Investor Diminta Wait and See

Investor disarankan untuk menunggu sebelum mengambil keputusan investasi baru di pasar modal dalam negeri setelah koreksi tajam yang terjadi pasar global dan domestik kemarin.
Emanuel B. Caesario | 12 Oktober 2018 01:04 WIB
Pengunjung berjalan di dekat logo PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Senin (8/10/2018). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA—Investor disarankan untuk menunggu sebelum mengambil keputusan investasi baru di pasar modal dalam negeri setelah koreksi tajam yang terjadi pasar global dan domestik kemarin.

Kemarin, IHSG ditutup melemah 117,846  poin atau 2,02% ke level 5.702,822. Kendati pelemahan ini tergolong tajam, tetapi dibandingkan indeks-indeks lainnya di Asia dan Amerika Serikat, tingkat koreksi IHSG masih relatif lebih rendah.

Pelemahan paling tajam di dalam negeri terjadi pada sektor aneka industri (-2,92%), keuangan (-2,68%), tambang (-2,46%), dan industri dasar & kimia (-2,23%). Sementara itu, di pasar global hingga pukul 18.30 WIB, indeks Nikkei -3,89%, Hang Seng -3,54%, Shanghai -5,22%, dan STI -2,69%.

Kevin Juido, Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas, mengatakan bahwa pelemahan tajam pasar saham global kemarin disebabkan oleh peningkatan tajam yield US Treasury 10 tahun yang sudah menyentuh 3,174% dan sempat lebih tinggi.

Hal ini menyebabkan arus keluar investor asing meningkat dari pasar negara-negara berkembang. Penguatan IHSG yang terjadi selama 3 hari di awal pekan ini bersifat semu, sebab terjadi dari aktivitas transaksi yang terbatas serta investor asing yang masih mencatatkan net sell.

Dalam 4 hari terakhir pekan ini, investor asing sudah keluar dari pasar saham Indonesia sekitar Rp2,96 triliun. Kevin menilai, belum terlalu banyak sentimen positif yang diharapkan bisa menopang IHSG, sehingga tetap rentan terhadap gejolak eksternal.

Menurutnya, penurunan IHSG kemarin yang tidak sebesar indeks-indeks global lainnya disebabkan karena posisi support kuat IHSG berada di level 5.600-5700, sehingga banyak pelaku pasar yang masuk mengimbangi keluarnya asing ketika IHSG mendekati level tersebut.

Kevin menilai, pasar yang kini tengah murah menjadi peluang yang baik bagi investor yang bagi investor berhorizon investasi jangka panjang. Namun, mengingat masih banyaknya risiko yang mengganggu di pasar, dirinya menyarakan pelaku pasar untuk menunggu dulu.

“Paling bijaksana wait and see dulu, tunggu sampai ada pemulihan sentimen positif, karena kalau kita tarik garis metric sampai akhir tahun ini akan ada masalah , seperti kenaikan suku bunga The Fed,” katanya, Kamis (11/10).

Jason Nasrial, Senior Vice President Royal Investium Sekuritas, juga merekomendasikan investor untuk wait and see, setidaknya hingga data hasil neraca perdagangan September terbit pada awal pekan depan.

“Kalau defisitnya seperti bulan Agutus, defisit US$1 miliar, IHSG bisa test ke 5.600,” katanya.

Jason mengatakan, koreksi yang terjadi pada IHSG tidak separah indeks regional lainnya karena IHSG sudah mengalami penurunan lebih awal dan cukup dalam dari level puncaknya tahun ini di kuartal pertama.

Lagi pula, selama 2009 -2018 awal, return IHSG adalah yang tertinggi dibandingkan indeks-indeks global lainnya dengan spread yang relatif jauh dibandingkan indeks-indeks tersebut. Alhasil, ketika terjadi koreksi, IHSG lebih dahulu dilepas oleh investor asing.

Menurutnya, koreksi wajar terjadi di seluruh pasar regional sebab sebelumnya Dow Jones dan S&P turun cukup dalam, yang mana memang wajar sebab valuasi pasar saham di Amerika Serikat adalah yang termahal di dunia.

Padahal, di sisi lain, AS juga mengalami defisit ganda, yakni budget deficit 3,7% terhadap GDP dan current account deficit 2,7% terhadap GDP. Selain itu, AS juga sudah memiliki debt to GDP ratio yang tinggi, mencapai 82%.

“Ini seharusnya bersifat sementara. Regional market juga sedang beradaptasi dengan new normal suku bunga US Treasury 10 tahun. At least, Senin [pekan depan] akan rebound untuk regional market,” katanya.

Jason menambahkan, seharusnya penurunan IHSG dan rupiah akan lebih terbatas lagi apabila pemerintah tidak menunda kenaikan harga BBM subsidi. Padahal, pada saat pemerintah terlanjur mengumumkan kenaikan harga, rupiah sempat menguat ke bawah Rp15.200 per dolar AS.

Frederik Rasali, Vice President Research Artha Sekuritas, mengatakan bahwa faktor lainnya adalah pelemahan tajam pada mata uang China dalam sepekan lalu, dari level 6,87 per dolar AS menjadi 6,92. Alhasil, pengenaan tariff yang dilakukan AS justru menyerang balik ke AS.

Selain itu, Trump juga berencana untuk mengetatkan aturan investasi asing di industri teknologi dan komunikasi pada bulan depan. Hal ini menyebabkan rontoknya harga saham-saham teknologi AS sehingga menyebabkan koreksi tajam pada indeks-indeks saham di AS.

Kebijakan pelemahan mata utang China menyebabkan arus modal asing cenderung beralih ke China dibandingkan ke banyak negara berkembang lainnya, termasuk Indonesia. Hal ini menjadi penyebab lainnya koreksi di pasar saham negara-negara berkembang dan Indonesia.

Tag : IHSG, Indeks BEI
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top