Kiwoom Sekuritas: IHSG Berpotensi Melemah Lagi

Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan bahwa secara teknikal, indeks IHSG berpotensi melemah dengan support dan resistance di level 5,666-5,742 pada perdagangan hari ini, Jumat (12/10/2018).
Emanuel B. Caesario | 12 Oktober 2018 10:11 WIB
Pelajar mengamati monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (13/9/2018). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA - Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan bahwa secara teknikal, indeks IHSG berpotensi melemah dengan support dan resistance di level 5,666-5,742 pada perdagangan hari ini, Jumat (12/10/2018).

Maximilianus Nico Demus, Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa dampak  dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS untuk 10 tahun dan 3 tahun yang masing-masing di level 3.22% dan 2.99%, dan volatilitas rupiah masih menjadi sentimen pasar. 

Hal ini membayangi kekhawatiran pelaku pasar karena akan menekan pasar ekuitas secara keseluruhan. Data inflasi Amerika yang keluar lebih rendah dari sebelumnya yaitu di 2,3% akan menjadi sentiment positif. 

Nico mengatakan data ini di luar dari estimasinya sebelumnya yang memperkirakan berada di 2,4%. 

"Dikarenakan data inflasi Amerika yang keluar rendah, kami menilai tekanan terhadap kenaikkan The Fed pada bulan Desember nanti akan sedikit berkurang, meskipun secara tingkat probabilitas masih sangat tinggi," katanya dalam riset harian, Jumat (12/10/2018).

Selain itu, kemarin Pemerintah Indonesia juga telah menandatangani perjanjian swap dengan Singapura. Kerjasama ini diharapkan dapat menanamkan kepercayaan investor dan meningkatkan stabilitas ekonomi dan pembangunan dikedua Negara. 

Nico menilai, hal yang cukup menarik adalah, menurut Bloomberg Economics, Bank Indonesia memiliki kemungkinan untuk menaikkan tingkat suku bunganya sebesar 50 bps sebelum akhir tahun untuk membantu menstabilkan nilai tukar Rupiah. 

Hal ini tentu akan semakin memperlebar perbedaan suku bunga dengan Amerika, dan meningkatkan daya tarik imbal hasil obligasi Pemerintah Indonesia apabila ingin berada di depan kurva dalam pendekatan kebijakan moneternya. 

"Cukup menarik apabila kita menantikan kenaikkan tingkat suku bunga Bank Indonesia dapat sejauh mana menaikkan tingkat suku bunganya untuk mengkompensasi kenaikkan Fed Rate," katanya.

Adapun, pada perdagangan kemarin, Kamis (11/10/2018) IHSG ditutup terkoresi sebesar 117.84 poin (-2.02%) menjadi 5,702. Sementara Investor asing mencatatkan net sell disemua perdagangan saham sebesar Rp1.18 triliun. 

Seluruh sektor industri turut memberikan tekanan terhadap indeks IHSG. Melemahnya sektor industri dipimpin oleh sektor aneka industri dan keuangan yang masing-masing terkoreksi -2.92% dan -2.68%.

Tag : IHSG, saham
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top