Festival Diwali India Berpotensi Pacu Permintaan CPO Kuartal IV/2018

Festival lampu atau Diwali di India berpotensi memacu permintaan CPO dari negara pembeli terbesar di dunia yang sedang sangat diperlukan untuk menopang harga yang rendah saat ini.
Mutiara Nabila | 11 Oktober 2018 19:38 WIB
Tandan buah segar sawit. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Festival lampu atau Diwali di India berpotensi memacu permintaan CPO dari negara pembeli terbesar di dunia yang sedang sangat diperlukan untuk menopang harga yang rendah saat ini.

Dengan kenaikan produksi di negara-negara produsen teratas dan harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) yang mulai mendekati level terendah selama 3 tahun lalu di posisi 2.121 ringgit per ton.

Salah satu yang bisa menahan penurunan lebih lanjut adalah festival Diwali India yang diharapkan dapat kembali memacu permintaan pada November mendatang.

CEO pialang Sunvin Group Sandeep Bajoria mengatakan bahwa harga CPO yang makin murah akan membantu memacu permintaan.

Pada perdagangan Kamis (11/10/2018), harga CPO di Bursa Derivatif Malaysia berada di posisi 2.164 ringgit per ton, turun 29 poin atau 1,32% dari sesi perdagangan hari sebelumnya dan mencatatkan penurunan harga hingga 14,20% secara year-to-date (ytd).

Pembelian minyak nabati itu dari India diperkirakan bisa melonjak hingga 10% dibandingkan dengan tahun lalu menjadi 2,4 juta ton pada sepanjang Oktober hingga Desember karena harga CPO yang melemah dan pengetatan cadangan minyak nabati domestiknya.

Hal itu bisa membantu menopang harga CPO di Kuala Lumpur yang sudah anjlok lebih dari 14% sepanjang tahun ini.

“Margin pengolah CPO saat ini masih baik, sehingga bisa ikut memicu pembelian CPO,” ujar Sandeep, dilansir dari Bloomberg, Kamis (11/10/2018).

Oscar Tjakra, analis biji-bijian dan minyak nabati Rabobank International, memprediksikan bahwa harga CPO diperkirakan akan berada pada rata-rata 2.200 per ton pada kuartal IV/2018. Harga tersebut jauh dibandingkan dengan rata-rata hingga 2.660 ringgit per ton pada periode yang sama 2017.

“Harga CPO harus jatuh ke bawah 2.100 ringgit per ton kalau mau CPO menjadi lebih kompetitif dan memacu ekspor,” ungkap Dorab Mistry, Direktur Godrej International.

Konsumsi diperkirakan akan menjulang selama Diwali karena permintaan untuk minyak masak dalam pembuatan makanan seperti biryani dan camilan goreng seperti jelebi.

“Impor dari India kemungkinan akan menguat selama festival itu. Harga CPO juga diperkirakan bisa mengauat lagi,” kata Gnanasekar Thiagarajan, Kepala Perdagangan dan Hedging di Kaleesuwari Intercontinental.

Namun, pelemahan mata uang rupee akan membuat impor India tidak sekuat yang diperkirakan karena pembelian minyak nabati dari luar negeri itu akan menjadi semakin mahal.

Tag : harga cpo
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top