Kenaikan Pasokan Dinilai Tak Pengaruhi Harga CPO

Cadangan minyak kepala sawit Malaysia menyentuh titik tertinggi selama 8 bulan pada September, tetapi sejumlah analis memprediksi hal itu tidak akan mempengaruhi harga secara signifikan.
Mutiara Nabila | 11 Oktober 2018 19:26 WIB
Ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Cadangan minyak kepala sawit Malaysia menyentuh titik tertinggi selama 8 bulan pada September, tetapi sejumlah analis memprediksi hal itu tidak akan mempengaruhi harga secara signifikan.

Cadangan minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) Malaysia pada September mencatatkan partumbuhan 1,45% menjadi 2,54 juta ton dari 2,5 juta ton pada Agustus, dengan produksi tumbuh hingga 14,4%. Kenaikan produksi itu selama ini diimbangi pula oleh kenaikan ekspor.

Angka yang dirilis oleh Badan Minyak Kelapa Sawit Malaysia menunjukkan bahwa cadangan CPO di negara produsen CPO terbsesar ke dunia itu bertumbuh hingga 10,79% secara month-on-month (mom) di tengah pertumbuhan di Semenanjung Malaysia, Sabah, dan Sarawak. Sedangkan pengolahan CPO-nya turun 8,29% karena penurunan produksi di tiga area itu.

Selain itu, total produksi untuk September bertumbuh 14,4% menjadi 1,85 juta ton dari 1,62 juta ton pada Agustus. Ekspor CPO Malaysia pada September juga melonjak 47,2% mom menjadi 1,62 juta ton dari 1,1 juta ton.

Analis TA Securities Angeline Chin memperkirakan bahwa permintaan pada Oktober dan November akan mampu menyerap stok CPO yang lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pada September.

“Menurut saya, awalnya jika kenaikan pasokan CPO pada September cukup nesar akan mempengaruhi penurunan harga, tapi kenaikannya hanya 1,45%. Kenaikan dari sisi ekspor dan produksi sudah sejalan dengan ekspektasi pasar. Yang mengejutkan adalah eksor dari Eropa yang masih bertumbuh secara signifikan,” paparnya, dilansir dari Reuters, Kamis (11/10/2018).

Chin menekankan bahwa kenaikan pasokan CPO kali ini tidak akan mampu menjatuhkan harga CPO. Menurutnya, saat ini pasar lebih mengkhawatirkan pergerakan ringgit daripada pasokan.

Chin memproyeksikan harga CPO bisa menyentuh 2.500 ringgit per ton hingga akhir tahun ini dan anjlok ke 2.450 ringgit per ton pada 2019.

Deddy Yusuf Siregar, analis Asia Trade Point Futures (ATPF) mengatakan bahwa untuk saat ini sentimen yang meliputi perdagangan CPO cukup beragam sehingga mempengaruhi harga.

“Pelemahan hari ini tampaknya dipicu oleh pertumbuhan persediaan CPO Malaysia. Kenaikan persediaan ini karena tingkat produksi CPO meningkat,” ujarnya kepada Bisnis.

Namun, kenaikan ekspor dari India diperkirakan bisa menopang laju harga CPO pada kuartal IV/2018. Permintaan India diperkirakan akan terus meningkat menjelang festival Diwali pada awal November karena pelemahan ringgit membuat harga CPO lebih terjangkau.

Deddy memproyeksikan harga CPO dalam waktu dekat akan berada di kisaran antara 2.000 – 2.250 ringgit per ton.

Analis teknikal Reuters Wang Tao memperkirakan harga CPO akan bergerak di kisaran antara 2.162 – 2.171 per ton. Secara teknikal harga CPO akan tetap berada dalam tren penurunan dari harganya pada 2.303 ringgit per ton.

Tag : harga cpo
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top