Daya Tarik Aset Berisiko Terkikis, Rupiah Melemah Lagi

Nilai tukar rupiah kembali tertekan saat kemerosotan pada pasar ekuitas di seluruh dunia menggerogoti minat investor terhadap aset-aset berisiko.
Renat Sofie Andriani | 11 Oktober 2018 18:54 WIB
Karyawan menghitung uang rupiah di sebuah money changer di Jakarta, Selasa (4/9/2018). - Reuters/Willy Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali tertekan saat kemerosotan pada pasar ekuitas di seluruh dunia menggerogoti minat investor terhadap aset-aset berisiko.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 35 poin atau 0,23% di level Rp15.235 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Kamis (11/10/2018), level terendahnya dalam 20 tahun.

Padahal, mata uang Garuda mampu rebound dan berakhir terapresiasi 38 poin atau 0,25% di Rp15.200 per dolar AS pada Rabu (10/10). 

Rupiah mulai kembali tertekan saat dibuka terdepresiasi 24 poin atau 0,16% di Rp15.224 per dolar AS pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak pada level Rp15.224 – Rp15.268 per dolar AS.

Bersama rupiah, beberapa mata uang di Asia melemah, dipimpin won Korea Selatan dan dolar Taiwan yang terdepresiasi 0,93% dan 0,33% masing-masing.

Won dan dolar melemah saat bursa saham Asia merosot mengikuti aksi jual besar-besaran pada bursa saham Wall Street di Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (10/10). Namun sejumlah mata uang di Asia terbukti tangguh.

Baht Thailand dan dolar Singapura, masing-masing terapresiasi 0,71% dan 0,27% pada pukul 18.10 WIB, mampu memimpin penguatan di antara sejumlah mata uang.

Pada perdagangan Rabu (10/10), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup terjerembap 3,15% di level 25.598,74, indeks S&P 500 anjlok 3,29% di 2.785,68, sedangkan indeks Nasdaq Composite berakhir melemah 4,08% di level 7.422,05.

Pergolakan pada bursa saham AS pun menjalar ke pasar Asia, dengan hampir seluruh indeks saham acuan mulai dari Tokyo hingga Hong Kong rata-rata mengalami penurunan lebih dari 3%.

Kekhawatiran baru tentang perang dagang dengan China dan kenaikan suku bunga sebagian besar telah memicu aksi jual pada pasar saham AS. Presiden AS Donald Trump pun kembali mengecam bank sentral AS Federal Reserve karena kenaikan suku bunga acuannya.

“Aksi jual pada bursa saham yang dipicu bursa AS menambah tekanan pada pasar negara berkembang karena sentimen penghindaran aset berisiko akan berlaku dan investor mungkin lebih suka memegang mata uang pasar maju,” kata Toru Nishihama, seorang ekonom emerging market di Dai-ichi Life.

Di sisi lain, pergerakan indeks dolar AS yang melacak kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama hari ini terpantau melemah 0,342 poin atau 0,36% ke level 95,166 pada pukul 18.00 WIB.

Indeks dolar sebelumnya dibuka turun 0,087 poin atau 0,09% di level 95,421, setelah berakhir melemah 0,160 poin atau 0,17% di posisi 95,508 pada Rabu (8/10).

“Kecaman Presiden Trump terhadap langkah pengetatan oleh The Fed dapat menahan kekuatan dolar AS dan menenangkan suasana hati investor di Asia,” ujar Ken Cheung, seorang pakar stretagi valas Asia di Mizuho Bank, seperti dikutip Bloomberg.

 

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top