Faktor Global Ini Bawa IHSG dan Bursa Saham Asia ke Zona Merah

Kepanikan karena kenaikan yield obligasi Amerika Serikat (AS) mendorong investor untuk mengamankan asetnya, sehingga pasar saham di sejumlah negara berada di zona merah.
Tegar Arief | 11 Oktober 2018 19:44 WIB
Karyawan melakukan perawatan patung Banteng Wulung, di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (28/9/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA -- Kepanikan karena kenaikan yield obligasi Amerika Serikat (AS) mendorong investor untuk mengamankan asetnya, sehingga pasar saham di sejumlah negara berada di zona merah.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menjelaskan, naiknya yield obligasi  AS akan menyebabkan kenaikan suku bunga bank sentral sehingga mendorong keluarnya dana investasi dari negara emerging market.

Kemudian, kritik yang disampaikan oleh Presiden AS Donald Trump kepada The Fed semakin membuat pelaku pasar semakin panik karena dianggap kebijakan di negara tersebut penuh ketidakpastian.

"Kebijakan mereka dianggap berbeda sehingga pasar panik karena khawatir akan adanya pelambatan ekonomi, banyak yang mengamankan aset karena cari aman. Dampaknya pasar saham terjun," kata dia saat dihubungi Bisnis.com, Kamis (11/10/2018).

Di sisi lain, International Monetary Fund (IMF) dan World Bank sempat menyinggung bahwa perang dagang akan membahayakan banyak negara dan menghambat pertumbuhan ekonomi global. Peringatan ini ditanggapi negatif oleh pelaku pasar sehingga memicu kekhawatiran.

Hans menambahkan, tekanan pasar pada tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh AS cukup memberatkan proses pemulihan pasar. "Butuh waktu yang lebih panjang untuk memulihkan indeks yang biasanya bagus pada akhir tahun," kata dia.

Dia memprediksi, setidaknya hingga bulan depan ketidakpastian masih akan menjadi pengaruh utama pergerakan indeks harga saham gabungan, termasuk pasar saham di negara-negara kawasan Asia.

Kepala Riset Narada Kapital Indonesia Kiswoyo Adi Joe menambahkan, ada dua kunci yang menjadi penggerak utama indeks yakni Dow Jones dan nilai tukar rupiah terhadap AS.

Dia menambahkan, saat ini pergerakan Dow Jones dan rupiah memang sulit diprediksi sehingga ada potensi gangguan ini akan bertahan hingga akhir tahun. Selama keduanya masih bergerak negatif, maka indeks akan tertekan.

Menurutnya, satu-satunya penyelamat indeks adalah kinerja emiten pada kuartal III/2018. Jika mayoritas emiten berkinerja positif, maka dampak dari tekanan global terhadap pergerakan IHSG bisa diminimalisasi.

"Sejauh ini kinerja emiten rata-rata bagus. Harapannya nanti kalau laporan keuangan rilis indeks bisa pulih. Ini menjadi satu-satunya harapan," ujarnya. Adapuns sektor yang menurutnya akan menopang indeks adalah perbankan.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup anjlok 2,02% atau 117,85 poin di level 5.702,82 pada perdagangan Kamis (11/10/2018). 

Hampir seluruh indeks saham di Asia Tenggara terpantau memerah dengan kemerosotan yang dalam sore ini, di antaranya indeks SE Thailand (-2,61%), indeks FTSE Malay KLCI (-1,54%), indeks FTSE Straits Time Singapura (-2,69%), dan indeks PSEi Filipina (-1,67%).

Di wilayah lainnya di Asia, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing berakhir anjlok 3,52% dan 3,89%, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan tersungkur lebih dari 5%.

Di China, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China terjun ke level terendahnya dalam beberapa tahun, masing-masing sebesar 5,22% dan 4,80%. Adapun indeks Hang Seng Hong Kong berakhir anjlok 3,54%.

Tag : IHSG, Indeks BEI
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top