Ini Kata Analis Terkait Pelemahan Rupiah Belakangan Ini

Pelemahan nilai tukar rupiah di hadapan dolar belakangan ini dinilai masih terdampak faktor eksternal yang tak terbendung. Selain itu, masalah defisit transaksi berjalan belum kunjung usai.
Mutiara Nabila | 10 Oktober 2018 14:06 WIB
Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Selasa (9/10/2018). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah di hadapan dolar belakangan ini dinilai masih terdampak faktor eksternal yang tak terbendung. Selain itu, masalah defisit transaksi berjalan belum kunjung usai.

Pada perdagangan Selasa (9/10), mata uang Garuda ditutup melemah 20 poin atau 0,13% di hadapan dolar AS menjadi Rp15.223 per dolar AS. Selama 2018 berjalan, rupiah telah mencatatkan pelemahan hingga 11,25%.

Pada perdagangan, Rabu (10/10/2018), tekanan terhadap rupiah mereda setelah rebound. Rupiah di pasar spot dibuka rebound dengan penguatan 0,16% atau 25 poin ke level Rp15.213 per dolar AS. 

Analis di Asia Trade Point Futures (ATPF) Deddy Yusuf Siregar mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah saat ini masih karena kurangnya kepercayaan pasar terhadap rupiah sebagai aset lindung nilai di tengah defisit transaksi berjalan atau CAD Indonesia yang terus melebar.

“Kepercayaan terhadap rupiah masih kurang, terlihat dari masih terbatasnya aliran dana masuk ke dalam pasar keuangan domestik. Kondisi ini dipicu oleh kekhawatiran pada defisit transaksi berjalan yg di perkirakan semakin melebar,” ujar Deddy kepada Bisnis, Selasa (9/10/2018).

Penyebab utama CAD yang terus melebar saat ini adalah kenaikan harga minyak yang menyebabkan kenaikan nilai impor bahan bakar minyak (BBM). Padahal dari sisi data ekonomi yang lain, catatan perekonomian Indonesia hampir secara keseluruhan sudah cukup bagus.

“Cadangan devisa periode September turun menjadi $114.8 miliar dr sebelumnya $117.9 miliar. Penurunan itu karena adanya intervensi Bank Indonesia ke pasar,” lanjutnya. Deddy menambahkan bahwa BI diperkirakan akan tetap hawkish mengingat The Fed akan tetap agresif dalam menaikkan suku bunga hingga akhir tahun.

Upaya menaikkan harga BBM saat ini dinilai bisa menjadi salah satu upaya untuk menurunkan CAD dan membantu menopang rupiah. 

Selain dengan mengupayakan penurunan CAD, seperti dengan mengeluarkan non-deliverable forward (NDF), mengurangi belanja impor dan mengingkatkan ekspor, faktor dari ketegangan baru pada hubungan AS dan China dan situasi politik di Eropa masih menjadi sebab utama pelemahan mata uang di negara berkembang seperti Indonesia.

“Transaksi seperti NDF itu diharapkan mampu mendukung upaya stabilitas nilai tukar rupiah melalui penyediaan alternatif instrumen, sayangnya sampai kini tampaknya belum efektif meredam pelemahan rupiah,” papar Deddy.

Dari segi kepercayaan, pelaku pasar saat ini masih lebih percaya menggunakan dolar AS dibanfingkan dengan rupiah dalam penggunaannya sebagai aset lindung nilai sehingga penguatan dolar AS berdampak parah kepada seluruh mata uang.

“Intinya sekarang masalahnya hanya di CAD. Retail sales year-on-year periode Agustus tumbuh 6,1%. Kepercayaan konsumen juga tumbuh, sisanya tinggal CAD saja.”

Deddy memproyeksikan dalam sepekan ke depan jika rupiah masih bertahan di kisaran Rp15.200-an, besar kemungkinan rupiah akan lanjut bergerak di kisaran antara Rp15.500 – Rp16.000 per dolar AS.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top