Penguatan Dolar AS Bikin Harga Emas Kian Terpuruk

Harga emas kembali tergelincir setelah dolar Amerika Serikat kembali menguat tipis karena data ekonominya yang menguat dan ekspektasi kenaikan suku bunga selanjutnya dari Federal Reserve AS.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 10 Oktober 2018  |  21:22 WIB
Penguatan Dolar AS Bikin Harga Emas Kian Terpuruk
Ilustrasi harga emas turun. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas kembali tergelincir setelah dolar Amerika Serikat kembali menguat tipis karena data ekonominya yang menguat dan ekspektasi kenaikan suku bunga selanjutnya dari Federal Reserve AS.

Pada perdagangan Rabu (10/10/2018) harga emas spot mengalami penurunan 2,92 poin atau 0,25% menjadi US$1.186,85 troy ounce dari sesi perdagangan hari sebelumnya dan mencatatkan penurunan harga hingga 8,90% secara year-to-date (ytd).

Adapun, harga emas Comex ikut turun 1.30 poin atau 0,11% menjadi US$1.190,20 per troy ounce dan membukukan penurunan harga hingga 9,33% selama tahun berjalan.

Pengelola urusan global di ABC Bullion Australia Nicholas Frappell mengatakan beberapa orang memperkirakan akan ada kenaikan harga, tapi kombinasi dari revisi data ekonomi AS yang membaik dan pengetatan kebijakan moneternya menjadi serangan bagi emas.

“Perbaikan terbaru pada data pekerjaan AS menekan kenaikan harga emas dan meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga AS pada FOMC [Komisi Perdagangan Terbuka],” ujarnya seperti dilansir dari Reuters, Rabu (10/10/2018).

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump sebelumnya sempat meluncurkan kritikan pada The Fed, mengatakan bahwa bank sentral negaranya bergerak terlalu cepat dalam menaikkan suku bunga ketika inflasi masih minim dan data perekonomian dari pemerintah masih positif.

Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar AS di hadapan sejumlah mata uang utama, pada sesi perdagangan yang sama tercatat naik tipis 0,07% menjadi 95,74.

Adapun, saham Asia mengalami rebound setelah saham dunia anjlok pada sesi hari sebelumnya karena kekhawatiran akan pertumbuhan ekonomi global.

“Kami melihat adanya sejumlah penawaran yang datang pada emas. Menurut saya karena penguatan dolar AS tidak terlalu liar, dan adanya sedikit ketidakpastian di pasar ekuitas,” ujar Stephen Innes, Kepala Perdagangan Asia–Pasifik di Oanda, Singapura.

Innes menambahkan, apabila ekuitas meruncing secara agresif, permintaan emas mungkin akan semakin meningkat. Dia mengatakan, pemicu utama pelemahan harga emas kali ini memang masih penguatan dolar AS.

Emas mempertahankan penurunan di kisaran US$34 selama 1,5 bulan terakhir yang diperkirakan sejumlah analis akan tetap bertahan seperti itu karena kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi global terutama di negara berkembang. Selain itu karena tekanan inflasi dari kenaikan harga-harga dalam dolar AS.

Namun, logam mulia itu, yang biasa digunakan sebagai aset lindung nilai ketika ada kekacauan geopolitik dan ekonomi, sudah kehilangan peminat untuk digunakan sebagai alat lindung nilai sepanjang 2018 dengan banyaknya investor yang lebih memilih menggunakan dolar AS. Hal itu terjadi seiring dengan perang dagang AS dan China memanas dan saat kenaikan suku bunga AS.

“Lanjutan pembalikan kondisi akan terus menekan harga emas di tengah tingginya fundamental ekonomi AS, yang semakin memacu kemungkinan kenaikan suku bunga dan kenaikan imbal hasil obligasi,” kata Benjamin Lu, analis komoditas di Phillip Futures.

Analis teknikal Reuters Wang Tao memproyeksikan support harga emas akan berada di posisi US$1.182 per troy ounce. Penembusan di bawah level tersebut akan membuat harga emas kian memburuk dengan titik support selanjutnya di US$1.174 per troy ounce.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Emas Hari Ini

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top