Mirae Asset Sekuritas: Pasar Berpotensi Menguat, Beli Seri-seri SUN yang Likuid

Mirae Asset Sekuritas memperkirakan bahwa pada perdagangan hari ini, Rabu (10/10/2018), harga Surat Utang Negara atau SUN di pasar sekunder berpotensi menguat dibandingkan dengan hari sebelumnya.
Emanuel B. Caesario | 10 Oktober 2018 09:03 WIB
SURAT UTANG NEGARA
Bisnis.com, JAKARTA--Mirae Asset Sekuritas memperkirakan bahwa pada perdagangan hari ini, Rabu (10/10/2018), harga Surat Utang Negara atau SUN di pasar sekunder berpotensi menguat dibandingkan dengan hari sebelumnya.
Dhian Karyantono, Analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas, mengatakan bahwa sentimen positif didorong oleh turunnya yield US Treasury dan proyeksi menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini.
Berikut ini proyeksi rentang pergerakan harga dan imbal hasil seri-seri acuan SUN hari ini [harga (Yield)]:
FR0063 (15 Mei 2023):  90,00 (8,28%) -  90,45  (8,15%)
FR0064 (15 Mei 2028):  85,10 (8,42%) -  85.65  (8,32%)
FR0065 (15 Mei 2033):  82,95 (8,71%) -  83,75  (8,60%)
FR0075 (15 Mei 2038):  86,75 (8,94%) -  87,45  (8,86%)
Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan menguat pada kisaran Rp15.175 – Rp15.238.
Dhian mengatakan, seperti yang sudah disampaikan dalam riset mingguannya awal pekan ini, harga SUN di pasar sekunder diperkirakan melemah di awal pekan (Senin dan Selasa) sebelum pada akhirnya menguat di hari Rabu, Kamis, dan Jumat minggu ini. 
Pada hari ini, kenaikan harga SUN utamanya didorong oleh minimnya rilis data krusial ekonomi AS. 
Sementara itu, untuk Kamis dan Jumat, meski investor perlu waspada, rilis data inflasi AS produsen (PPI, rabu malam) dan konsumen (CPI, kamis malam) per September 2018 secara tahunan diproyeksi menurun yang diperkirakan dapat menyebabkan penurunan yield US Treasury dan indeks dolar AS yang pada akhirnya memberikan sentimen positif bagi pergerakan harga SUN di hari Kamis dan Jumat. 
Dasar dari proyeksi turunnya inflasi (PPI dan CPI) AS adalah berdasarkan analisis sederhana yang menggunakan data historis di mana inflasi AS (YoY) merupakan lagging indicator dari harga minyak mentah dunia (Brent dan WTI). Hal tersebut diartikan bahwa harga minyak mentah dunia yang cenderung menurun pada bulan Agustus 2018 (dibandingkan Juli 2018) diperkirakan membuat inflasi (YoY) AS pada September 2018 menurun. 
"Dengan dasar tersebut, kami menyarankan aksi hold hingga buy gradually untuk seri-seri yang tergolong likuid seperti FR0063, FR0064, FR0065, FR0075, FR0077, dan FR0078," katanya dalam riset harian, Rabu (10/10/2018).   
Review Perdagangan Kemarin
Harga SUN di pasar sekunder melanjutkan penurunan. Rata-rata penurunan harga SUN untuk kategori tenor pendek mencapai 5,88 bps, sedangkan untuk kategori SUN tenor menengah dan panjang mengalami rata-rata penurunan harga masing-masing sebesar 57,41 bps dan 29,07 bps.  
Dengan demikian, yield SUN secara umum masih meningkat di mana acuan 10 tahun naik ke level 8,55% dibandingkan dengan hari sebelumnya di level 8,44%. 
Penurunan harga/kenaikan yield SUN di pasar sekunder kemarin didorong oleh kenaikan signifikan yield Italia 10 tahun setelah pasar mengkhawatirkan kemungkinan penurunan Sovereign Credit Rating Italia dan adanya momen lelang SUN. 
Selain itu, rupiah yang kembali melanjutkan pelemahan terhadap dolar AS, juga menambah tekanan kepada pergerakan harga SUN di pasar sekunder yang utamanya didorong oleh sentimen negatif dari depresiasi renminbi pasca kebijakan pemotongan GWM perbankan oleh PBoC. 
Rupiah pada perdagangan terakhir, kembali melemah terhadap dolar AS sebesar 0,13% ke level Rp15.238 meski volatilitasnya relatif lebih rendah dibandingkan hari sebelumnya di tengah redanya tekanan dari harga minyak mentah dunia. 
Sementara itu, adanya lelang SUN kemarin mendorong kenaikan nominal dan frekuensi transaksi obligasi pemerintah dibandingkan hari sebelumnya di mana seri baru, FR0077, mendominasi kedua kategori tersebut.
Di pasar global, yield US Treasury dan indeks dolar AS turun didorong oleh minimnya rilis data krusial ekonomi AS, kritik Trump terhadap The Fed, dan turunnya yield Italia. 
Pasca penutupan pasar obligasi AS, guna memperingati Hari Columbus, yield US Treasury secara umum menurun di mana acuan 10 tahun turun ke level 3,21% dibandingkan dengan level sebelumnya sebesar 3,24%. 
Hal tersebut, didorong oleh menurunnya tekanan dari yield Italia khususnya tenor 10 tahun yang pada perdagangan terakhir turun ke level 3,51% (sebelumnya sebesar 3,55%). 
Selain itu, minimnya rilis data krusial ekonomi AS semalam dan kritik Trump terhadap kebijakan moneter ketat The Fed saat ini juga pada akhirnya ikut mendorong penurunan yield US Treasury. 
Ketiga faktor tersebut, juga mendorong depresiasi dolar AS dengan beberapa peersnya yang tercermin dari turunnya indeks dolar AS ke level 95,67 poin dibandingkan level sebelumnya 95,76 poin.
Tag : Obligasi
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top