Penguatan Dolar & Aksi Jual AS Tekan Harga Kontrak Biji-Bijian

Kontrak gandum merosot lebih dari 1% karena aksi jual secara teknikal dan penguatan dolar AS membuat banyak pengimpor menghindari ekspor biji-bijian AS. Selama ini bursa komoditas biji-bijian sudah berjuang untuk berkompetisi di pasar global.
Mutiara Nabila | 09 Oktober 2018 16:30 WIB
Pekerja melakukan proses pengolahan kedelai di salah satu pabrik di Jakarta, Selasa (13/3/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Kontrak gandum merosot lebih dari 1% karena aksi jual secara teknikal dan penguatan dolar AS membuat banyak pengimpor menghindari ekspor biji-bijian AS. Selama ini bursa komoditas biji-bijian sudah berjuang untuk berkompetisi di pasar global.

Pada perdagangan Selasa (29/10/2018), harga jagung di Chicago Board of Trade (CBOT) melorot 0,50 poin atau 0,14% menjadi US$366 sen per bushel setelah mengalami kenaikan dalam dua sesi beruntun pada akhir pekan lalu. Harga masih mencatatkan kenaikan 4,35% sepanjang 2018.

Selanjutnya, harga kedelai kembali memerah 3 poin atau 0,34% ke posisi US$866,75 sen per bushel setelah pada sesi awal sempat menghijau ke posisi US$872 sen per bushel. Kedelai di CBOT membukukan penurunan harga hingga 8,93% secara year-to-date (ytd).

Pergerakan harga tersebut disebabkan oleh kekhawatiran akan penundaan panen dan kerusakan tanaman karena hujan di Midwest. Analis di Advance Trading Brian Basting mengatakan bahwa panen akan kembali dimulai, tapi musim hujan memunculkan hambatan sehingga panen tertunda.

Saat ini investor masih menahan posisi sebelum rilis laporan Departemen Pertanian AS (USDA) tentang pasokan dan permintaan yang diperkirakan mengalami kenaikan untuk komoditas jagung AS dan akan adanya tambahan pasokan dari seluruh komoditas biji-bijian global.

Selain itu, penguatan dolar AS di hadapan sejumlah mata uang utama, membuat komoditas yang dihargai dengan dolar AS menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang selain dolar AS. Indeks dolar AS pada Selasa (9/10) naik 0,17% menjadi 95,90 poin dari sesi sebelumnya.

Dari komoditas gandum, harganya turun 2,75 poin atau 0,54% menjadi US$511,25 sen per bushel dan membukukan kenaikan harga hingga 19,73% sepanjang 2018 berjalan. Harga tersebut membuat gandum menyentuh harga terendah selama sepekan.

 “Sebenarnya ada sedikit dorongan bagi harga biji-bijian karena komoditas itu sangat sensitif pada perubahan cuaca, terutama ketika berhadapan dengan cuaca hujan,” ungkap Basting, dikutip dari Reuters, Selasa (9/10/2018).

Kemudian, yang menjadi pemberat harga biji-bijian selanjutnya adalah karena Rusia yang mendorong ekspornya sehingga membuat pasokan dari AS menjadi kalah saing dan harganya terus menurun meskipun AS sudah berupaya menyusutkan kesenjangan harga dalam beberapa pekan belakangan.

Sementara itu, pedagang gandum juga sudah berspekulasi akan adanya pengetatan pasokan dari Rusia yang berpotensi menahan ekspornya. Kementerian Pertanian Rusia mengatakan akan mulai menjual 1,5 juta tin cadangan biji-bijiannya dalam 2-3 pekan ke depan.

Tag : komoditas, kedelai
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top