REKOMENDASI INVESTASI: Saatnya Masuk ke Reksa Dana Dolar?

Reksa dana berdenominasi dolar Amerika Serikat bisa dijadikan pilihan investasi di tengah tingginya volatilitas pasar saat ini.
Tegar Arief | 09 Oktober 2018 06:17 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — Reksa dana berdenominasi dolar Amerika Serikat bisa dijadikan pilihan investasi di tengah tingginya volatilitas pasar saat ini.

Tren penguatan dolar Amerika Serikat bisa menjadi pisau bermata dua bagi reksa dana berdenominasi dolar AS. Kinerja reksa dana dolar AS yang memiliki aset domestik otomatis tertekan, sedangkan reksa dana dolar AS yang berinvestasi di luar negeri (offshore) bisa untung, kendati risiko penurunan kinerja tetap ada.

Berdasarkan data Infovesta Utama, saat ini ada 39 produk reksa dana denominasi dolar AS yang dipasarkan di dalam negeri. Dari jumlah tersebut, yang mencatatkan kinerja positif hanya sembilan produk, sedangkan sisanya negatif.

Namun demikian, dari segelintir produk yang mencatatkan kinerja positif tersebut, terdapat produk yang mencatat return di atas 10%. Untung tersebut terbilang cukup menggiurkan di tengah tren penurunan return sejumlah produk reksa dana terbuka.

Head of Investment PT Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan bahwa reksa dana dengan mata uang dolar AS cukup menarik dari sisi valuasi di tengah kondisi pasar seperti saat ini. Namun, menurutnya, investor perlu lebih cermat memilih jenis produk.

"Untuk strategi ini tergantung dari tujuan investor sendiri. Memang cukup menarik tetapi harus hati-hati dalam menentukan jenis produk dan underlying asset," katanya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

Dia menjelaskan, jika produk reksa dana berdenominasi dolar AS menggunakan aset dasar obligasi berdurasi pendek, ada kemungkinan akan berkinerja negatif. Menurutnya, kinerja pasar obligasi saat ini sedang tertekan akibat tren kenaikan suku bunga, baik di AS maupun negara-negara lainnya.

Apalagi, pada tahun depan suku bunga diprediksi masih melanjutkan kenaikan. Untuk itu, menurut Wawan kinerja reksa dana pendapatan tetap berdenominasi dolar AS masih akan tertekan setidaknya hingga tahun depan.

"Kalau untuk reksa dana saham tergantung strateginya, misalnya di negara mana ditempatkan dan di sektor apa. Karena ada negara yang marketnya turun ada juga yang masih bagus," jelasnya.

Berbeda dengan pendapatan tetap, dia menilai bahwa reksa dana saham berdenominasi dolar AS lebih prospektif, terutama untuk produk yang menggunakan aset dasar yang ada di AS. Sebab, produk jenis ini bisa dijadikan sebagai diversifikasi dari pasar Indonesia, yang rata-rata pertumbuhan kinerja per tahun mencapai 10 kali lipat. Adapun jenis investor yang biasanya masuk ke produk ini adalah ritel dan institusi asuransi jiwa.

"Tapi kalau investor mau yang aman tentu masuk ke pasar uang karena memang risikonya lebih kecil dibandingkan dengan produk jenis lain," ujarnya.

Direktur PT Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan bahwa kurang memuaskannya kinerja sebagian besar produk reksa dana denominasi dolar AS sejalan dengan tren penurunan market di sejumlah negara, baik pasar saham maupun obligasi.

Namun, tidak ada salahnya bagi investor untuk masuk ke reksa dana jenis ini. “Kalau isinya lebih konservatif dan pilihan sahamnya bagus kinerja produknya akan

Senada dengan Wawan, Rudi mengingatkan kepada investor untuk cermat dalam memilih produk sehingga investasi yang memanfaatkan penguatan dolar ini tidak berubah menjadi kerugian. "Tergantung kebijakan investasi, itu yang harus diperhatikan."

Head Investment Avrist Asset Management Farash Farich menilai bahwa saat ini merupakan momentum yang tepat bagi investor untuk masuk ke reksa dana berdenominasi dolar AS.

Namun, investor perlu mencermati dengan seksama kebutuhan investasi tersebut. "Kalau memang ada kebutuhan dana masa depan dalam dollar AS maka baik investasi di aset dolar AS supaya mata uangnya match dan tidak ada risiko mata uang," kata dia saat dihubungi, Senin (8/10).

Untuk jangka panjang, menurutnya, reksa dana saham akan memberikan imbal hasil yang menarik sejalan dengan proyeksi pemulihan pasar. Adapun, untuk jangka pendek Farash merekomendasikan reksa dana pendapatan tetap.

"Reksa dana dolar AS saat ini cukup menarik. Tapi kalau mau ambil di pasar uang imbal hasilnya sangat kecil," ujarnya.

 

Tag : reksa dana
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top