Rupiah Berakhir Jebol Rp15.200 Per US$, Ini Penyebabnya

Nilai tukar rupiah terus melemah hingga menembus level Rp15.200 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Senin (8/10/2018), di tengah pelemahan mayoritas mata uang di Asia terhadap dolar AS.
Renat Sofie Andriani | 08 Oktober 2018 18:35 WIB
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Senin (2/7/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terus melemah hingga menembus level Rp15.200 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Senin (8/10/2018), di tengah pelemahan mayoritas mata uang di Asia terhadap dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot berakhir melemah 35 poin atau 0,23% di level Rp15.218 per dolar AS, pelemahan pada perdagangan hari keenam beruntun.

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak pada level Rp15.188 – Rp15.255 per dolar AS.

Rupiah mulai melanjutkan pelemahannya ketika dibuka dengan pelemahan 11 poin atau 0,07% di Rp15.194 per dolar AS, setelah berakhir terdepresiasi tipis 4 poin atau 0,03% di level 15.183 pada perdagangan Jumat (5/10).

Dengan demikian, mata uang Garuda telah melemah 315 poin sejak mampu ditutup terapresiasi di level Rp14.903 per dolar AS pada perdagangan Jumat (28/9/2018).

Bersama rupiah, mata uang lainnya di Asia mayoritas terpantau melemah, dipimpin renminbi China dan yuan offshore China masing-masing sebesar 0,78% dan 0,5% pada pukul 17.47 WIB. Di sisi lain, nilai tukar yen menguat 0,33% ke level 113,35 yen per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS yang melacak kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau naik 0,341 poin atau 0,36% ke level 95,965 pada pukul 17.37 WIB.

Indeks dolar sebelumnya dibuka cenderung flat di level 95,620, setelah pada perdagangan Jumat (5/10) berakhir turun 0,13% atau 0,127 poin di posisi 95,624.

Yuan memimpin pelemahan pada mata uang di Asia saat faktor penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi AS membebani langkah pelonggaran yang dilancarkan pihak otoritas moneter China akhir pekan kemarin. Pasar saham China pun mencatat penurunan terdalam di kawasan Asia hari ini.

People’s Bank of China (PBOC) memutuskan untuk memangkas cadangan wajib bank untuk keempat kalinya tahun ini sebagai bagian dari upaya untuk mendukung pertumbuhan di tengah memanasnya perang perdagangan dengan AS.

Rasio cadangan wajib (RRR), yang saat ini 15,5% untuk pemberi pinjaman komersial besar dan 13,5% untuk bank yang lebih kecil, akan dipangkas sebesar 100 basis point efektif mulai 15 Oktober, terang PBOC dalam pernyataannya pada Minggu (7/10).

Negeri Panda dihadapkan dengan kebutuhan yang lebih mendesak untuk mendukung ekonomi domestik, bahkan jika hal itu dapat meningkatkan tekanan pada mata uangnya.

“Pemangkasan RRR tidak cukup untuk melawan dampak perang dagang. Perekonomian sangat lemah, dan saya melihat semakin banyak perusahaan yang menempatkan aset mereka untuk dijual karena pesimisme,” ujar David Dai, general manager Shanghai Wisdom Investment Co Ltd, seperti dikutip Reuters.

Setiap pelemahan pada yuan cenderung menyeret turun mata uang pasar negara berkembang lainnya karena perlu terdepresiasi untuk menjaga ekspor tetap kompetitif. Sebaliknya, mata uang safe haven seperti yen Jepang dan dolar AS terangkat, terutama ketika imbal hasil AS meningkat.

Imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun mencapai level tertingginya dalam tujuh tahun pada Jumat (5/10) setelah data menunjukkan penurunan tingkat pengangguran di AS ke level terendahnya sejak 1969.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menuturkan pelemahan pengaruh dari AS terutama yang dipicu oleh yield dari surat utang tenor 10 tahun AS meningkat tajam sudah di atas 3,4%.

"Sekarang sudah lewat 3,4% dan oleh karena itu yang harus dilakukan kita adalah terus melakukan penyesuaian," ujar Sri Mulyani, seperti dilansir Bisnis.com.

Menurutnya, saat ini Indonesia berhadapan dengan lingkungan global dengan tren suku bunga yang meningkat. Bahkan menurutnya, pergerakan suku bunga AS akan jauh lebih cepat.

“Fed Funds Rate [FFR] naik, ten year bond dari US treasury naik. Ini semuanya semakin mengonfirmasi bahwa AS tengah mengalami akselerasi ekonomi yang semakin tinggi dan oleh karena itu respons interest rate mereka dalam bentuk us treasury maupun FFR semuanya meningkat," jelas Sri Mulyani.

Dia melanjutkan dalam kondisi normal saat ini titik keseimbangan belum tercapai sehingga ke depan masih akan terjadi fleksibilitas dalam nilai tukar.

Pemerintah, jelasnya, terus melakukan bauran kebijakan bersama Bank Indonesia (BI) guna mengelola nilai tukar agar tidak terlalu volatil.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top