Sri Mulyani: Pelemahan Rupiah Dipicu Yield US Treasury 10 Tahun

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menuturkan pelemahan pengaruh dari AS terutama yang dipicu oleh yield dari surat utang tenor 10 tahun AS meningkat tajam sudah di atas 3,4%. Menurutnya, dengan meningkatnya yield tersebut, likuiditas global semakin meninggalkan pasar negara emerging.
Rinaldi Mohammad Azka | 08 Oktober 2018 17:49 WIB
Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde (dari kiri) makan gorengan, didampingi Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani saat mengunjungi korban gempa di Desa Guntur Macan, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, NTB, Senin (8/10/2018). - Istimewa

Bisnis.com, MANGUPURA, Bali - Sentimen eksternal menjadi penyebab utama pelemahan rupiah. Pemerintah menilai meningkatnya yield (imbal hasil) surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun yang melewati level psikologis beberapa terakhir menjadi biang keladinya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menuturkan pelemahan pengaruh dari AS terutama yang dipicu oleh yield dari surat utang tenor 10 tahun AS  meningkat tajam sudah di atas 3,4%. Menurutnya, dengan meningkatnya yield tersebut, likuiditas global semakin meninggalkan pasar negara emerging.

"Jadi kita lihat dinamika perekonomian AS itu masih sangat mendominasi dan pergerakannya sangat cepat sekali. Kalau dulu batas psikologisnya untuk surat utang 10 tahun AS itu 3%, jadi kalau dia mendekati 3% memunculkan reaksi dari seluruh pergerakan, terutama nilai tukar dan suku bunga internasional," jelasnya di Nusa Dua, Bali, Senin (8/10/2018).

Menurutnya saat ini Indonesia berhadapan dengan lingkungan global dengan tren suku bunga yang meningkat. Bahkan menurutnya, pergerakan suku bunga AS akan jauh lebih cepat. "Sekarang sudah lewat 3,4% dan oleh karena itu yang harus dilakukan kita adalah terus melakukan penyesuaian," tegasnya.

Penyesuaian yang dimaksud adalah melakukan strategi pembangunan supaya lebih stabil dan bisa berdaya tahan, tetapi juga penyesuaian itu dalam bentuk nilai tukar yang dalam hal ini fleksibel. 

Fleksibilitas yang dimaksud adalah pelemahan rupiah yang terus akan berlanjut. Dia pun mengakui perlu berhati-hati dari sisi kecepatannya. "Namun, bahwa fleksibilitas dari nilai tukar itu tidak bisa dihindarkan karena dia bagian dari respons terhadap perubahan isu lingkungan global yang masih berjalan.," tuturnya.

Sri Mulyani berpendapat demikian sebab apabila melihat tren, penaikan suku bunga acuan AS masih akan bertambah 2 sampai 3 kali di tahun depan. Artinya, tren penaikan suku bunga ini sudah dapat diprediksi. Adapun kalau dari sisi fiskal APBN AS yang menjadi salah satu indikator ekonomi AS adalah yield dari surat utang 10 tahun AS. 

"Fed Fund Rate [FFR] naik, ten year bond dari US treasury naik. Ini semuanya semakin mengonfirmasi bahwa AS tengah mengalami akselerasi ekonomi yang semakin tinggi dan oleh karena itu respons interest rate mereka dalam bentuk us treasury maupun FFR semuanya meningkat," jelas Sri Mulyani.

Dia melanjutkan dalam kondisi normal saat ini titik keseimbangan belum tercapai sehingga ke depan masih akan terjadi fleksibilitas dalam nilai tukar.

Pemerintah jelasnya terus melakukan bauran kebijakan bersama Bank Indonesia (BI) guna mengelola nilai tukar agar tidak terlalu volatil. 

"Pak perry sudah sampaikan, melakukan yang disebut policy mix. Kami dan juga BI akan melakukan policy mix, yang ada domainnya di Bank Indonesia, dalam hal ini di dalam mengelola nilai tukar, macroprudential, dan dari sisi mereka melalukan intervensi. Kami di pemerintah melakukan campuran dengan apa yang sudah dilakukan di moneter," paparnya.

Tag : annual meetings IMF-World Bank
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top