Tren Saham ANTM Berpotensi Reversal

Saham PT Aneka Tambang Tbk ditutup menguat 5 poin di level 805 pada akhir perdagangan sesi I Senin (8/10) sejalan dengan masih ‘berkilaunya’ harga emas perusahaan.
Anida ul Masruroh | 08 Oktober 2018 14:25 WIB
Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk, di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA—Saham PT Aneka Tambang Tbk ditutup menguat 5 poin di level 805 pada akhir perdagangan sesi I Senin (8/10) sejalan dengan masih ‘berkilaunya’ harga emas perusahaan. Harga emas emiten berticker ANTM itu tetap kuat di tengah tren harga komoditas emas global yang sedang terkoreksi pasca  penguatan dollar index.  

Harga emas kontrak pengiriman Desember 2018 di Commodity Exchange berada pada level US$1.205 per troy ons atau mengalami koreksi sepanjang 2018 sebesar 9,6% (ytd). Namun, penguatan dolar terhadap rupiah mendorong investor domestik yang cenderung konservatif lebih memilih safe haven asset.

Selain itu, jelang Pilpres 2019 membuat emas menjadi alternatif investasi terbaik untuk menghindari gejolak di pasar keuangan. Kondisi inilah yang masih melambungkan harga emas ANTAM hingga mencapai Rp670 ribu per gram.

Saat ini, valuasi saham ANTM sangat terdiskon dengan forward PE ratio sebesar 17,2 kali (bahkan di bawah rata-rata historis 1 tahun dan melebihi standar deviasi dengan forward PE ratio 48,6 kali). Namun, harga saham ANTM masih bisa dibilang relatif overvalued (lebih mahal) apabila dibandingkan dengan indeks sektor pertambangan yang memiliki forward PE ratio sebesar 7,82 kali.

Secara teknikal analisis, terlihat doji candlestick pattern pada saham ANTM yang mengindikasikan tren bearish akan segera berakhir. Saham ANTM telah breakout MA20  dan mencoba kembali menguat untuk menuju level 830 dengan menguji MA200 sebagai resistance terdekat. Diperkirakan saham ANTM akan bergerak dalam rentang 790 – 823 dalam perdagangan hari ini.

Sumber: Bloomberg

*) Anida ul Masruroh, analis Bisnis Indonesia Resources Center

Tag : IHSG, antam
Editor : Aprillian Hermawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top