Rekomendasi Saham: Pilih-Pilih Saham Anak BUMN

Sejumlah saham anak Badan Usaha Milik Negara masih layak dikoleksi untuk periode 3 bulan terakhir tahun ini sejalan dengan pertumbuhan kinerja keuangan dan valuasi saham yang dimiliki.
M. Nurhadi Pratomo | 08 Oktober 2018 00:51 WIB
Karyawan mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Dealing Room Bank Permata, Jakarta, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah saham anak Badan Usaha Milik Negara masih layak dikoleksi untuk periode 3 bulan terakhir tahun ini sejalan dengan pertumbuhan kinerja keuangan dan valuasi saham yang dimiliki.

Berdasarkan data Bloomberg, saham 5 dari 11 emiten anak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendarat di zona hijau pada penutupan perdagangan, Jumat (5/10). Penguatan dipimpin oleh TUGU dengan 3,33% atau 100 poin ke level Rp3.100 per saham.

Sementara itu, 6 sisanya tersungkur ke zona merah pada sesi perdagangan akhir pekan lalu. Dari 11 emiten anak BUMN, saham ELSA terkoreksi paling dalam 3,63% atau 14 poin ke level Rp372.

Untuk periode berjalan 2018, pergerakan saham emiten anak BUMN tercatat kompak mengalami koreksi. Sementara itu, saham IPCC, yang baru resmi melantai perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI), pada 9 Juli 2018, tercatat menguat 46,67% dalam satu bulan terakhir. 

Frankie Wijoyo Prasetio, Head of Equity Trading Phintraco Sekuritas Medan menjelaskan bahwa pergerakan saham sejumlah emiten anak BUMN berada dalam tren penurunan pada 2018. Apalagi, saham sektor konstruksi yang dibayangi kekhawatiran beban bunga akan menggerus performa perseroan.

Akan tetapi, dia menyebut valuasi yang dimiliki beberapa emiten anak BUMN sudah terbilang murah. Pasalnya, harga sudah lebih terdiskon dibandingkan dengan periode 2017.

“Rekomendasi saya adalah saham dengan earning growth lebih besar daripada kenaikan harga sahamnya,” ujarnya kepada Bisnis.com, baru-baru ini.

Frankie menyebut saham WTON menjadi salah satu yang menarik untuk dikoleksi. Hal itu sejalan dengan kenaikan laba 17% per tahun yang dimiliki perseroan namun performa saham malah mengalami penurunan.

Berdasarkan data Bloomberg, saham WTON memiliki price earning ratio (PER) 9,46 kali pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu. Pergerakan saham tercatat mengalami koreksi 30,00% pada periode berjalan 2018.

Secara umum, dia menilai bahwa pergerakan saham emiten anak usaha cenderung mengikuti tren dari entitas induk. Kondisi itu baik secara kinerja fundamental maupun sentimen.

“Meskipun tidak selamanya begitu tetapi pada umumnya saling terkait,” imbuhnya.

Sementara itu, Frederik Rasali, Vice President Research Artha Sekuritas menilai beberapa emiten anak BUMN belum genap satu tahun melantai di BEI. Oleh karena itu, kemungkinan besar masih memerlukan waktu untuk membuktikan kinerja fundamental apakah sesuai dengan valuasi saat penawaran umum perdana saham (IPO).

“Jadi masih wajar kalau secara periode berjalan 2018 masih terkoreksi beberapa saham yang baru debut ke BEI pada 2017—2018,” paparnya.

Frederik menilai dua saham anak BUMN yang menarik dikoleksi yakni GMFI dan IPCC. Kedua emiten tersebut memiliki peluang lebih likuid berkat perseroan yang aktif melalui investor relation untuk menjalin hubungan dengan pasar.

Di sisi lain, dia menilai saham ELSA bergerak didorong sentimen positif harga minyak yang terus naik mendekati US$80 per barel. Apalagi, saham perseroan masuk ke dalam daftar Indeks LQ45.

Untuk anak usaha BUMN Karya, Frederik mengatakan masih berjuan untuk memenuhi target kontrak baru 2018. Selain itu, pertumbuhan anggaran infrastruktur, pada 2019, tidak sekencang periode-periode sebelumnya turut membayangi pergerakan saham.

Sementara itu, sektor keuangan menurutnya saat ini tengah melakukan penyesuaian. Hal itu sejalan dengan tren kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat dan di dalam negeri.

Analis Binaartha Sekuritas M. Nafan Aji Gusta Utama merekomendasikan saham WEGE dan WSBP untuk saham emiten anak BUMN. Keduanya menurutnya layaknya diakumulasi beli oleh para investor.

Nafan mengatakan saham WEGE memiliki target harga jangka panjang di level Rp314 per saham. Selanjutnya, saham WSBP memiliki target jangka panjang di level Rp498 per saham.

Tag : bumn, rekomendasi saham
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top