PROSPEK KINERJA & SAHAM: Emiten Grup Salim Masih Menarik  

Kinerja keuangan dan saham emiten Grup Salim di sektor konsumsi, perkebunan, serta otomotif berpotensi meningkat pada semester II/2018 seiring dengan potensi pertumbuhan konsumsi masyarakat.
Hafiyyan | 08 Oktober 2018 14:43 WIB
Pengunjung mengamati papan monitor yang menunjukkan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa efek Indonesia, Jakarta, Rabu (11/7/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA—Kinerja keuangan dan saham emiten Grup Salim di sektor konsumsi, perkebunan, serta otomotif berpotensi meningkat pada semester II/2018 seiring dengan potensi pertumbuhan konsumsi masyarakat.

Di sisi lain, langkah emiten-emiten di dalam grup yang rutin membagikan dividen menjadi daya tarik lebih bagi investor, sehingga mengerek pergerakan sahamnya.

Kepala Riset Narada Kapital Indonesia Kiswoyo Adi Joe menyampaikan, pada semester II/2018 kinerja emiten Grup Salim di sektor konsumsi dapat meningkat seiring dengan meningkatnya daya beli masyarakat.

Terbukti, mengutip data Bank Indonesia (BI), Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada September 2018 mencapai 122,4, naik dari bulan sebelumnya 121,6.

Hal ini menjadi kabar baik baik sejumlah emiten Salim, seperti PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF). Namun demikian, pergerakan saham INDF dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dibayangi sentimen negatif dari bahan baku impor sehingga cenderung terkoreksi.

Adapun, pendapatan emiten di sektor perkebunan terdorong potensi peningkatan produki tandan buah segar (TBS), minyak kelapa sawit (CPO), dan produk hilir sawit lainnya. Biasanya, 60% lebih produksi produk sawit dalam setahun penuh didapatkan pada semester II/2018 seiring dengan pemulihan cuaca. 

"Jadi, diperkirakan pada semester II/2018 pendapatan Grup Salim, terutama di sektor perkebunan dan konsumsi berpotensi meningkat," tuturnya saat dihubungi, Minggu (7/10/2018).

Menurut Kiswoyo, saham-saham emiten Grup Salim yang menarik dan mendapat rekomendasi beli ialah LSIP dengan target harga Rp1.500, INDF Rp9.000, dan ICBP Rp10.000 sampai akhir 2018. Adapun, SIMP sebetulnya berpotensi mencapai harga wajar Rp600, tetapi sahamnya kurang likuid.

Dia menambahkan, selain potensi kenaikan kinerja yang stabil, emiten-emiten Grup Salim cukup royal dan rutin dalam memberikan dividen. Hal ini menjadi daya tarik lebih bagi investor.

Analis Panin Sekuritas William Hartanto menyampaikan, kinerja emiten salim seperti IMAS dan IMJS didorong oleh data kenaikan penjualan mobil. Adapun, di sektor pekebunan, pelaku pasar disarankan melihat perkembangan kebijakan B20 untuk menilai potensi penambahan konsumsi CPO.

 Dari masing-masing sektor [otomotif dan perkebunan], sahamnya yang paling menarik ialah IMJS dan LSIP, dibandingkan saham IMAS dan SIMP," tuturnya.

Menurutnya, pergerakan IMJS cukup bagus dengan potensi meningkat. Investor disarankan melakukan akumulasi beli pada harga Rp650 dengan target Rp720—Rp800. Sampai dengan akhir 2018, sahamnya berpotensi menuju Rp800—Rp900.

Saham LSIP berpotensi menguat sepekan ini menuju level resistan Rp1.250. Jika level resistan itu berhasil ditembus, target harga sampai akhir 2018 ialah Rp1.450—Rp1.600. Adapun, saham Grup Salim di sektor perkebunan lainnya, yakni SIMP pergerakannya cenderung menurun dengan harga diperkirakan menuju level support Rp470—Rp474.

 Saham IMAS perlu menembus level resistan Rp2.000 untuk mengonfirmasi kenaikan. Target harga selanjutnya ialah Rp2.500.

Tag : kinerja emiten, grup salim
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top