Harga Minyak Rebound Setelah Sempat Anjlok

Harga minyak rebound dari pelemahan yang dibukukan sebelumnya, saat para pedagang mengantisipasikan pasar yang lebih ketat akibat sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap ekspor minyak mentah Iran yang akan mulai berlaku bulan depan.
Renat Sofie Andriani | 05 Oktober 2018 16:07 WIB
Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak rebound dari pelemahan yang dibukukan sebelumnya, saat para pedagang mengantisipasikan pasar yang lebih ketat akibat sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap ekspor minyak mentah Iran yang akan mulai berlaku bulan depan.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak November 2018 menguat 0,48% atau 0,36 poin ke level US$74,69 per barel di New York Mercantile Exchange pukul 15.09 WIB perdagangan hari ini, Jumat (5/10/2018).

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Desember 2018 naik 0,28% atau 0,24 poin ke level US$84,82 per barel di ICE Futures Europe Exchange yang berbasis di London.

Baik WTI dan Brent mulai rebound saat dibuka di zona hijau masing-masing dengan kenaikan 0,46% dan 0,37% pagi tadi. Pada perdagangan Kamis (4/10), WTI berakhir anjlok 2,72% di level US$74,33 per barel, sedangkan Brent anjlok 1,98% di posisi 84,58.

Kenaikan ini membantu mengembalikan sebagian kerugian yang dialami pada sesi perdagangan sebelumnya akibat meningkatnya persediaan minyak mentah di AS.

Pada saat yang sama, Arab Saudi dan Rusia menyatakan akan meningkatkan output setidaknya sebagian untuk menutupi gangguan yang diperkirakan dari Iran.

“Harga Brent naik 6% selama sepekan terakhir saat semakin terlihat bahwa ekspor Iran bisa jatuh di bawah 1 juta barel per hari pada November,” jelas analis Jefferies, seperti dikutip Reuters.

Sanksi AS akan mulai menargetkan ekspor minyak mentah Iran mulai 4 November, dan pemerintah AS memberikan tekanan pada pemerintah dan perusahaan-perusahaan global untuk sejalan dengannya.

“Kini tampak bahwa hanya China dan Turki yang bersedia menanggung risiko pembalasan dari AS dengan bertransaksi dengan Iran,” lanjut Jefferies.

Meski memaparkan bahwa saat ini terdapat cukup minyak untuk memenuhi permintaan, bank investasi global asal AS tersebut juga memperingatkan berkurangnya kapasitas cadangan global.

“Ini berarti gangguan pasokan lebih lanjut akan sulit untuk dikelola bagi pasar dan dapat menyebabkan kenaikan harga minyak mentah,” jelasnya.

Ekspektasi pasar yang lebih ketat memicu sentimen pasar minyak yang bullish. Pedagang telah mengakumulasi long position yang bullish dan bertaruh pada kenaikan lebih lanjut dalam harga.

“Pertaruhan bullish telah meningkat secara substansial saat pasar bergerak menuju kekurangan [suplai] yang akan datang akibat sanksi AS-Iran,” kata Benjamin Lu dari Phillip Futures.

Tag : Harga Minyak
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top