Mirae Asset Sekuritas: Harga SUN Diproyeksi Lanjutkan Pelemahan

Mirae Asset Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) di pasar sekunder masih akan melanjutkan pelemahan pada perdagangan Jumat (5/10/2018).
Emanuel B. Caesario | 05 Oktober 2018 09:42 WIB
Ilustrasi Surat Utang Negara

Bisnis.com, JAKARTA -- Mirae Asset Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) di pasar sekunder masih akan melanjutkan pelemahan pada perdagangan Jumat (5/10/2018).
 
"Hal tersebut masih didorong oleh naiknya yield US Treasury 10 tahun dan proyeksi berlanjutnya depresiasi rupiah hari ini," kata Analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas Dhian Karyantono dalam riset harian, Jumat (5/10).
 
Berikut proyeksi rentang pergerakan harga dan imbal hasil seri-seri acuan SUN, hari ini:
 
FR0063 (15 Mei 2023):  90,00 (8,28%) -  90,45  (8,15%)
FR0064 (15 Mei 2028):  84,70 (8,48%) -  85.30  (8,38%)
FR0065 (15 Mei 2033):  83,40 (8,65%) -  84,00  (8,56%)
FR0075 (15 Mei 2038):  87,00 (8,91%) -  88,00  (8,79%)
 
Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan kembali melemah pada kisaran Rp15.175-Rp15.260.
 
Dia merekomendasikan investor untuk wait and see, hari ini. Hal tersebut didasarkan pada tiga hal yaitu antisipasi jelang rilis data nonfarm payroll AS pada Jumat (5/10) malam waktu Indonesia, jelang rilis data cadangan devisa Indonesia pada sore ini, dan lelang SUN pekan depan yang berpotensi memberikan sentimen negatif lanjutan pada pergerakan harga SUN di awal pekan depan. 

Pada Kamis (4/10), harga SUN di pasar sekunder melanjutkan pelemahan. Rata-rata penurunan harga SUN di pasar sekunder dibandingkan dengan hari sebelumnya untuk kategori tenor pendek mencapai 19,4 bps.

Sementara itu, kategori tenor menengah dan panjang rata-rata mengalami penurunan harga, masing-masing sebesar 74,73 bps dan 78,86 bps. 
 
Dengan demikian, yield SUN secara umum meningkat, di mana untuk benchmark 10 tahun ditutup naik ke level 8,37% dibandingkan dengan hari sebelumnya yang sebesar 8,22%. 
 
Penurunan harga SUN di pasar sekunder yang terjadi pada perdagangan terakhir masih dipicu oleh sentimen negatif dari determinan yield SUN tenor 10 tahun yaitu naiknya yield US Treasury 10 tahun dan depresiasi rupiah di tengah terus membaiknya ekonomi AS dan tren kenaikan harga minyak mentah dunia. 
 
Nilai tukar rupiah juga mengalami pelemahan dengan tingkat depresiasi sebesar 0,69% ke level Rp15.179. 
 
Sementara itu, nominal transaksi pemerintah di pasar sekunder meningkat dibandingkan dengan hari sebelumnya yang didominasi oleh SUN tenor menengah. Dari sisi frekuensi transaksi pun terjadi hal yang sama, yang didominasi oleh perdagangan ORI012.

Sentimen negatif global bagi pasar obligasi dari Indonesia tampaknya kembali meningkat setelah yield US Treasury, khususnya tenor 10 tahun, melanjutkan kenaikan hingga ditutup di level 3,19% dari sebelumnya 3,18%.
 
Yield US Treasury kembali meningkat didorong oleh pernyataan hawkish Gubernur The Fed Jerome Powell dan turunnya klaim tunjangan pengangguran AS. Powell mengindikasikan bahwa suku bunga acuan The Fed saat ini masih jauh dari level netralnya, sekaligus memberikan pesan bahwa proses normalisasi Fed Rate masih terus berlanjut.
 
Meski definisi terkait dengan level netral Fed Rate beragam, jika mengacu pada longer run Fed rate berdasarkan proyeksi The Fed pada Federal Open Market Committee (FOMC) bulan lalu, maka diperkirakan berada di level 3% (median) hingga 3,5% (upper level range). 
 
Jika dikalkulasi, kurang lebih masih ada 3-5 kali kenaikan Fed Rate dari level saat ini hingga ke level netral tersebut. Saat ini, suku bunga acuan AS berada di level 2% - 2,25%.
 
Selain itu, kenaikan yield US Treasury juga didorong oleh rilis data klaim tunjangan pengangguran AS di mana rilis data tunjangan awal pengangguran AS (initial jobless claims) turun ke level 207.000 klaim dari sebelumnya 215.000 klaim. Tunjangan pengangguran berkelanjutan (continuing jobless claims) juga berkurang menjadi 1,65 juta klaim dari sebelumnya 1,66 juta klaim.
 
Perkembangan lainnya adalah harga minyak mentah turun terbatas sedangkan indeks dolar AS cenderung stagnan. 
 
Harga minyak mentah untuk kategori WTI turun tipis ke level US$74,33 per barel dibandingkan sebelumnya di level US$76,41 per barel. Kategori Brent juga turun ke level US$84,58 per barel dari sebelumnya US$86,29 per barel.
 
Sementara itu, indeks dolar AS cenderung stagnan di level 95,74 poin. Penguatan euro terhadap dolar AS sebesar 0,31% ke level 0,868 euro dibatasi pernyataan hawkish Powell dan rilis membaiknya data tenaga kerja AS.

Tag : surat utang negara
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top