Bursa Asia Terus Tertekan, IHSG Melemah Lima Hari Berturut-turut

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup melemah 0,43% atau 24,68 poin ke level 5.731,93, setelah dibuka di zona merah dengan pelemahan 0,31% atau 18,02 poin ke level 5.738,59.
Aprianto Cahyo Nugroho | 05 Oktober 2018 16:48 WIB
Pengunjung berbincang di depan monitor perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (18/9/2018). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus mencatat pelemahan sepanjang pekan ini setelah ditutup di zona merah pada akhir perdagangan hari ini, Jumat (5/10/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup melemah 0,43% atau 24,68 poin ke level 5.731,93, setelah dibuka di zona merah dengan pelemahan 0,31% atau 18,02 poin ke level 5.738,59.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada level 5.706,40 – 5.758,27. Adapun pada perdagangan Kamis (4/10), IHSG berakhir melemah 1,89% di level 5.756,62.

Dari 605 saham yang diperdagangkan di IHSG hari ini, sebanyak 159 saham menguat, 222 saham melemah, dan 223 saham lainnya stagnan. Sepanjang pekan ini, IHSG tercatat telah melemah hingga 4,09%.

Enam dari sembilan indeks sektoral IHSG ditutup melemah, dengan tekanan utama dari sektor properti yang melemah 1,58%, disusul sektor aneka industri yang turun 1,34%.

Di sisi lain, tiga sektor lainnya ditutup menguat dan menahan pelemahan IHSG lebih lanjut, dipimpin sektor tambang yang menguat 0,4%.

Pergerakan indeks IHSG sejalan dengan gerak bursa Asia yang melemah setelah imbal hasil Treasury AS kembali melonjak ke level tertinggi barunya dalam tujuh tahun terakhir, sekaligus mendorong kekhawatiran tentang inflasi dan risiko laju kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan.

Di Asia Tenggara, indeks FTSE Straits Time Singapura melemah 0,78, indeks FTSE Malay KLCI turun 0,72%, indeks SE Thailand melemah 0,44%, sedangkan indeks PSEi Filipina tergelincir 0,21%.

Bursa saham lain di Asia juga turut tertekan, dengan indeks Topix dan Nikkei melemah masing-masing 0,47% dan 0,80%, sedangkan indeks Kospi melemah 0,31% dan indeks Hang Seng turun 0,19%.

Dilansir Reuters, imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam tujuh tahun terakhir sebesar 3,232%.

“Imbal hasil Treasury yang meningkat pesat menggoyahkan pasar ekuitas di seluruh dunia, dengan saham teknologi mendorong penurunan,” kata Yasuo Sakuma, chief investment officer di Libra Investments.

Lonjakan imbal hasil Treasury juga mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah di seluruh dunia, dengan pengecualian besar Italia, di mana biaya pinjaman menurun setelah pemerintah menyatakan akan memangkas target defisit anggaran dari 2020.

 

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

(%)

BBCA

-2,33

TLKM

-1,94

ASII

-1,77

UNVR

-0,81

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

(%)

HMSP

+0,81

UNTR

+2,11

BMRI

+0,80

MAYA

+6,73

Sumber: Bloomberg

Tag : IHSG, Indeks BEI
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top