Penguatan Dolar AS Picu Kenaikan Harga CPO

Harga CPO menguat hingga tertinggi selama 2 pekan setelah ringgit melemah di hadapan dolar AS sehingga membuat harga CPO berdenominasi ringgit semakin mahal.
Mutiara Nabila | 04 Oktober 2018 20:41 WIB
Karyawan mengamati Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), di galeri Bursa Berjangka Komoditi, Jakarta. - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA – Harga CPO menguat hingga tertinggi selama 2 pekan setelah ringgit melemah di hadapan dolar AS sehingga membuat harga CPO berdenominasi ringgit semakin mahal.

Analis Asia Trade Point Futures (ATPF) mengungkapkan bahwa pelemahan mata uang ringgit Malaysia di hadapan dolar AS membuat harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) semakin tinggi.

“Kenaikan harga CPO kali ini pertama karena melemahnya nilai tukar ringgit di hadapan dolar AS. Selain itu dukungan datang dari ekspor CPO Indonesia yang meningkat,” paparnya kepada Bisnis, Kamis (4/10/2018).

Ringgit melemah di hadapan dolar AS hingga 0,19% menjadi 4,147 ringgit per dolar AS pada Kamis (4/10). Sepanjang tahun ringgit melemah 2,44%. Adapun, indeks dolar AS tercatat menguat 0,3% menjadi 96,09 poin.

Deddy menambahkan bahwa berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) pada Akhir Agustus, ekspor CPO tercatat mencapai 3,3 juta ton. Kemudian, ekspor ke India juga mengaami kenaikan tajam hingga 28% atau mencapai 832.000 ton.

“Selain itu, permintaan dari China juga naik 26% karena perang dagang dengan AS,” lanjutnya.

Namun, ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan harga CPO tetap bearish hingga akhir tahun. Adanya kampanye negatif dari Uni Eropa terhadap CPO Indonesia masih memberikan dampak besar bagi ekspor CPO Indonesia.

Deddy menjelaskan bahwa ekspor ke Uni Eropa kini turun 10%, ditambah lagi dengan cadangan CPO Indonesia dan Malaysia yang melimpah masih berpotensi kembali menekan harga CPO hingga akhir tahun.

“Cadangan CPO Malaysia naik 2,49 juta ton, Indonesia bertambah 5 juta ton. Program B20 dari pemerintah belum cukup mengurangi cadangan CPO Indonesia secara signifikan untuk menaikkan harga CPO jangka pendek, tapi kalau untuk jangka panjang masih mungkin,” kata Deddy.

Analis ATPF itu memproyeksikan harga CPO akan bergerak di kisaran 2.000 – 2.200 ringgit per ton hingga akhir tahun.

Adapun, untuk jangka pendek analis teknikal Reuters Wang Tao memprediksikan harga CPO bisa kembali ke posisi 2.176 ringgit per ton karena hanya stabil di kisaran 2.200 ringgit per ton. Resistan 2.200 ringgit per ton terbentuk dari penurunan 38,2% dari harga CPO di 2.303 ringgit menjadi 2.137 ringgit per ton.

“Kenaikan harga sepertinya belum siap terus berlanjut. Tetapi kalau ternyata berhasil naik harga CPO kemungkinan akan bergerak di kisaran 2.237 ringgit – 2.240 ringgit per ton,” kata Wang, dikutip dari Reuters, Kamis (4/10/2018).

Tag : kelapa sawit
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top