Pelemahan Euro Mendongkrak Kurs Dolar AS

Dolar AS menguat di hadapan sejumlah mata uang utama setelah pembuat kebijakan Amerika Serikat mengungkapkan inflasinya tidak naik setinggi yang diekspektasikan dan Federal Reserve AS akan tetap percaya diri untuk menaikkan suku bunga hingga Desember mendatang.
Mutiara Nabila | 04 Oktober 2018 07:44 WIB
Petugas kasir menghitung mata uang dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang, di Jakarta, Selasa (2/10/2018). - ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

Bisnis.com, JAKARTA – Dolar AS menguat di hadapan sejumlah mata uang utama setelah pembuat kebijakan Amerika Serikat mengungkapkan inflasinya tidak naik setinggi yang diekspektasikan dan Federal Reserve AS akan tetap percaya diri untuk menaikkan suku bunga hingga Desember mendatang.

Komentar Pembuat Kebijakan Federal Reserve AS Charles Evans membuat euro terpangkas dan menghapuskan reli pendek setelah sempat terangkat oleh laporan bahwa Italia berencana untuk menurunkan defisit bujet dalam 3 tahun ke depan.

Evans mengatakan bahwa keputusan menaikkan suku bunga AS hingga 3% - 3,25% akan sejalan dengan pengutan perekonomian AS dan tingkat inflasinya.

Pada Rabu (3/10), indeks dolar AS menguat 0,07% menjadi 95,57 poin di hadapan mata uang saingannya dan menghapuskan pelemahan di hadapan euro yang telah mengalami penguatan pada awal perdagangan.

Ketidakpastian seputar utang Italia, rencana fiskal dan ikatan jangka panjang dengan Eropa membuat pasar ketar-ketir dan memperparah tensi antara pimpinan zona eropa lainnya. Hal itu membuat euro meluncur ke level terendahnya selama 6 pekan.

Euro kemudian menguat setelah pemerintahnya mengatakan bahwa Roma berencana menurunkan secara berkala defisit bujetnya hingga 2% dari Produk Domestik Bruto (PDB)-nya pada 2021.

“Pemerintah Italia yang mencoba menenagkan rekanannya di Uni Eropa terlihat sebagai langkah kea rah yang tepat untuk membangun reaksi positif pada euro,” kata Thu Lan Nguyen, ahli strategi mata uang di Commerzbank AG, dikutip dari Reuters, Rabu (3/10/2018).

Nguyen menambahkan bahwa penguatan euro hanya akan berlanjut jika rencana fiskalnya juga layak untuk dilanjutkan.

Pada perdagangan Rabu (3/10) euro melemah tipis 0,10% menjadi US$1,153 per euro setelah sempat naik 0,2% di posisi US$1,156 per euro. Pada sesi sebelumnya, euro bahkan sempat melemah hingga menyentuh titik terendahnya sejak 21 Agustus di US$1,150 per euro.

“Faktanya, bahwa politisi Italia ternyata merasa perlu untuk terus menerus mengulangi pembicaraan tentang pelemahan fundamental utama pada euro,” kata Michael Hewson, Kepala Analis CMC Market.

Adapun, yen dan franc, sebagai aset lindung nilai juga harus berjuang di hadapan saingannya seperti euro, dolar AS, dan dolar Australia.

“Data AS yang akan muncul hari ini, seperti indeks non-manufaktur ISM, akan membuka peluang untuk melihat apakah perekonoman AS berkinerja sesuai dengan pandangan dari The Fed,” ungkap Junichi Ishikawa, ahli strategi mata uang senior di IG Securities di Tokyo.

Ishikawa melanjutkan bahwa dolar AS sudah mendapat dorongan dari pelemahan euro beberapa waktu belakangan, tetapi faktor fundamental dari kenaikan suku bunga The Fed berperan lebih besar dalam penguatan dolar AS.

Dengan penguatan dolar AS, selain mata uang utama, rupiah juga mengalami pelemahan tajam. Mata uang Garuda melanjutkan pelemahan hingga 32,5 poin atau 0,22% menjadi Rp15.075 per dolar AS dan membukukan pelemahan hingga 9,85% sepanjang 2018.

Tag : dolar as
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top