Mirae Asset Sekuritas: Yield US Treasury Menanjak, SUN Lanjut Melemah

Mirae Asset Sekuritas memperkirakan bahwa harga surat utang negara atau SUN hari ini, Kamis (4/10/2018) di pasar sekunder dibandingkan dengan kemarin diproyeksi masih akan melanjutkan pelemahan.
Emanuel B. Caesario | 04 Oktober 2018 09:51 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA--Mirae Asset Sekuritas memperkirakan bahwa harga surat utang negara atau SUN hari ini, Kamis (4/10/2018) di pasar sekunder dibandingkan dengan kemarin diproyeksi masih akan melanjutkan pelemahan.

Dhian Karyantono, Analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas, mengatakan bahwa hal tersebut didorong oleh kenaikan signifikan yield US Treasury khususnya tenor 10 tahun dan proyeksi depresiasi rupiah terhadap dolar AS hari ini. 

"Sentimen negatif bagi pasar obligasi Indonesia masih didominasi oleh sentimen global yaitu terus membaiknya ekonomi AS dan kenaikan harga minyak mentah dunia meski sentimen negatif dari Italia cenderung mereda," katanya dalam riset harian, Kamis (4/10/2018).

Berikut ini proyeksi rentang pergerakan harga dan imbal basil seri-seri acuan SUN hari ini [harga (yield)]:

FR0063 (15 Mei 2023):  90,20 (8,22%) -  90,65 (8,10%)

FR0064 (15 Mei 2028):  85,50 (8,35%) -  86.15  (8,24%)

FR0065 (15 Mei 2033):  84,20 (8,54%) -  85,00  (8,43%)

FR0075 (15 Mei 2038):  87,70 (8,83%) -  88,60  (8,72%).

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat diperkirakan melemah pada kisaran Rp15.075 – Rp15.193.

Dhian masih merekomendasikan wait and see bagi investor hari ini.

Adapun, pada perdagangan kemarin, harga SUN di pasar sekunder kembali turun pada perdagangan terakhir. Yield SUN secara umum meningkat di mana yield acuan 10 tahun berdasarkan data Bloomberg, naik ke level 8,21% dibandingkan dengan hari sebelumnya di level 8,10%. 

Berlanjutnya penurunan harga SUN pada perdagangan terakhir didorong naiknya yield US Treasury khususnya tenor 10 tahun dan depresiasi rupiah terhadap dolar AS sebagai akibat dari  ketidakpastian ekonomi dan politik di Italia dan melonjaknya harga minyak mentah dunia. 

Di pasar global, sentimen negatif global masih tinggi, kali ini didorong oleh terus membaiknya ekonomi AS. Membaiknya ekonomi AS juga mendorong dolar AS menguat yang tercermin dari kenaikan indeks dolar AS dengan penutupan di level 96,03 poin dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya di level 95,57 poin.  

Harga minyak mentah dunia terus menunjukkan peningkatan di mana pada perdagangan terakhir, untuk kategori WTI, berada di kisaran US$76,41 per barel (sebelumnya US$75,23 per barel) sementara untuk kategori Brent berada di kisaran US$86,29 per barel (sebelumnya US$84,80 per barel) yang merupakan level tertinggi dalam kurun waktu kurang lebih 4 tahun terakhir.   

Tag : Obligasi
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top