Emerging Market Tertekan, IHSG Terlempar ke Level 5.700 Pada Akhir Sesi I

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terlempar meninggalkan level 5.800 pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Kamis (4/10/2018), di tengah tekanan yang dialami pasar negara berkembang (emerging market).
Renat Sofie Andriani | 04 Oktober 2018 13:37 WIB
Karyawan melintas di bawah layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (13/9/2018). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terlempar meninggalkan level 5.800 pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Kamis (4/10/2018), di tengah tekanan yang dialami pasar negara berkembang (emerging market).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG merosot 1,70% atau 99,66 poin ke level 5.768,07 pada akhir sesi I, setelah dibuka turun 0,34% atau 20,14 poin di posisi 5.847,60.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada level 5.767,01 – 5.847,60. Adapun pada perdagangan Rabu (3/10), IHSG ditutup melemah 0,13% di level 5.867,74.

Seluruh sembilan sektor pada IHSG tertekan di zona merah, dipimpin industri dasar yang anjlok 3,09%. Pelemahan sektor industri dasar diikuti finansial dan aneka industri yang masing-masing melemah 2,14% dan 1,68%.

Sebanyak 83 saham menguat, 282 saham melemah, dan 239 saham stagnan dari 604 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia siang ini.

Bersama IHSG, indeks saham lain di Asia Tenggara melemah siang ini, dengan indeks FTSE Straits Time Singapura (-1,12%), indeks SE Thailand (-0,51%), indeks FTSE Malay KLCI (-0,21%), dan indeks PSEi Filipina (-0,87%).

Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,35%, indeks Kospi Korea Selatan melemah 1,59%, dan indeks Hang Seng Hong Kong merosot 1,76%.

Secara keseluruhan, indeks saham regional MSCI Asia Pacific, selain Jepang, meluncur 1,7%, dengan indeks saham mulai di Korea Seletan, Filipina, hingga Indonesia bergerak melorot. Bahkan indeks Nikkei turun saat peningkatan imbal hasil mengimbangi dorongan untuk eksportir dari pelemahan nilai tukar yen.

Dilansir dari Bloomberg, pasar ekuitas dan mata uang emerging market di Asia melemah saat lonjakan pada imbal hasil obligasi AS menekan permintaan untuk aset-aset berisiko. Sejumlah mata uang utama pun tak terhindar dari aksi jual terhadap greenback.

Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun tetap berada di kisaran level tertingginya sejak 2011 setelah melonjak 12 bps pada hari Rabu (3/10) akibat laporan kenaikan dalam data Ketenagakerjaan Nasional ADP dan Institute for Supply Management (ISM).

Kedua data tersebut serta merta meningkatkan ekspektasi untuk kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve AS pada bulan Desember.

Kemerosotan juga melanda pasar ekuitas dimana indeks saham emerging market turun untuk hari kelima. Imbal hasil AS tidak memberi keuntungan bagi emerging market karena cenderung menarik banyak dana asing sekaligus menekan mata uang lokal.

Harga obligasi pun jatuh di seluruh wilayah Asia, sedangkan imbal hasil Jepang bertenor jangka panjang mencapai level yang belum pernah terlihat sejak awal 2016.

“Sebuah dinamika yang sederhana terlihat dalam ekonomi global saat ini, AS sedang booming sementara sebagian besar bagian di dunia melambat atau bahkan stagnan,” ujar ekonom HSBC, Kevin Logan, seperti dikutip Reuters.

“Langkah Federal Reserve yang menaikkan suku bunga untuk mencegah ekonomi AS dari overheating menghambat opsi kebijakan negara-negara di mana kondisi keuangan mengencang dan tensi perdagangan memburuk.”

Sejalan dengan pelemahan mayoritas mata uang di Asia siang ini, nilai tukar rupiah di pasar spot terpantau melemah 113 poin atau 0,75% ke level Rp15.188 per dolar AS.

Mata uang Garuda sebelumnya dibuka dengan pelemahan 45 poin atau 0,30% di level Rp15.120 per dolar AS. Adapun pada perdagangan Rabu (3/10/2018), rupiah berakhir melemah 32 poin atau 0,21% di posisi Rp15.075 per dolar AS.

Tag : IHSG
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top