Lonjakan Produksi & Penguatan Dolar AS Bisa Menekan Harga Minyak

Harga minyak naik karena adanya ekspektasi pengetatan pasar setelah sanksi Amerika Serikat pada industri minyak Iran bulan depan. Namun, penguatan dolar AS dan kenaikan pasokan dari Negeri Paman Sam berpotensi menahan kenaikan harga.
Mutiara Nabila | 03 Oktober 2018 19:49 WIB
Prediksi Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak naik karena adanya ekspektasi pengetatan pasar setelah sanksi Amerika Serikat pada industri minyak Iran bulan depan. Namun, penguatan dolar AS dan kenaikan pasokan dari Negeri Paman Sam berpotensi menahan kenaikan harga.

Dilansir dari Reuters, Rabu (3/10/2018), sejumlah investor mengungkapkan bahwa pasar minyak tetap mengetat karena perkembangan isu sanksi AS kepada Iran yang akan berlaku penuh pada 4 November mendatang.

Pada pekan ini, Brent dan WTI menyentuh titik tertingginya yang terakhir kali terlihat pada November 2014 dan masih dalam jalurnya mengalami kenaikan harga. Kedua kontrak mencatatkan kenaikan masing-masing sekitar 20% dan 17% sejak pertengahan Agusutus lalu.

Meskipun demikian, harga minyak diprediksi bisa tertahan oleh penguatan dolar AS yang membuat impor minyak berharga dolar AS menjadi semakin mahal bagi negara-negara pengguna mata uang selain dolar AS. Ditambah pula, kenaikan pasokan dari AS juga berpotensi menekan harga.

Saat ini, indeks dolar saat ini berdiri di posisi 95,39 poin dan menguat dari level terendahnya setelah Federal Reserve AS kembali menaikkan suku bunga dan akan berlanjut hingga 2020.

Berdasarkan data American Petroleum Institute (API), cadangan minyak AS naik 907.000 barel pada pekan 28 September menjadi 400.9 juta barel. Namun, cadangan minyak sulingannya anjlok 158.000 barel per hari.

Data pemerintah dari Energy Information Administration (EIA) baru akan dirilis pada Rabu (3/10) malam waktu AS.

Kenaikan cadangan minyak AS itu disebabkan oleh produksi minyak AS yang berlangsung terus-menerus sehingga membuat pasokannya melonjak tiga kali lipat.

“Kami memperkirakan cadangan minyak AS akan mencapai 11,3 juta barel per hari,” ujar Michael Cohen, analis minyak di bank Barclays, dikutip dari Reuters. Hal itu menunjukkan bahwa AS akan menjadi pesaing Rusia sebagai produsen minyak terbesar di dunia.

Dari sisi permintaan, konsumsi bahan bakar masih sangat kuat, terutama dari negara ekonomi berkembang di seluruh Asia. Akan tetapi, harga minyak mentah yang tinggi bersama pelemahan mata uang di negara berkembang, dapat mengancam pertumbuhan ekonomi.

“Kenaikan harga minyak ke titik tertingginya, bersamaan dengan pelemahan mata uang negara berkembang yang menyentuh rekor menjadi sinyal bagi OPEC bahwa permintaan kemungkinan bisa turun tajam secara tiba-tiba,” papar Edward Bell, analis di Emirates NBD Bank.

Dini Nurhadi Yasyi, analis PT Monex Investindo Futures menyebutkan API melaporkan bahwa suplai minyak AS bertambah 0,9 juta barel per hari di tengah masih adanya sentimen dari outlook pengetatan output dampak dari sanksi Iran dari AS.

“Hal itu berpotensi masih akan menjadi katalis positif untuk harga minyak mentah,” paparnya, dikutip Bisnis dalam laporan hariannya, Rabu (3/10/2018).

Dini memproyeksikan haega minyak WTI jika mengalami penguatan lebih lanjut akan berada di kisaran US$75,70 per barel. Sementara itu, jika melemah setelah produksi minyak AS dikonfirmasi EIA, maka harganya akan turun ke kisaran US$74 – US$74,50 per barel.

Tag : Harga Minyak
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top