Rupiah Bertahan di Level Rp15.000-an, Analis Sebut Dolar AS Masih 'Bullish'

Nilai tukar rupiah melemah menembus Rp15.000 per dolar AS. Analis memprediksikan dari sisi domestik belum ada intervensi yang mampu menopang rupiah apabila kondisi eksternal masih terlalu kuat.
Mutiara Nabila | 03 Oktober 2018 17:59 WIB
Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat Rp15.043 pada 2 Oktober 2018. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah melemah menembus Rp15.000 per dolar AS. Analis memprediksikan dari sisi domestik belum ada intervensi yang mampu menopang rupiah apabila kondisi eksternal masih terlalu kuat.

Analis mata uang Central Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan bahwa dolar AS masih bullish. Dia memprediksikan jika faktor eksternal masih terus menyerang, rupiah bahkan bisa menyentuh Rp16.000 – Rp17.000 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup di zona merah dengan pelemahan 0,21% atau 32 poin ke level Rp15.075 per dolar AS setelah bergerak pada kisaran Rp15.065-Rp15.088.

Rupiah dibuka dengan pelemahan 22 poin atau 0,15% di level Rp15.065 per dolar AS. Adapun, pada perdagangan Selasa (2/10/2018), rupiah berakhir terjun 132 poin atau 0,89% di posisi Rp15.043 per dolar AS.

“Secara teknikal, polanya sama dengan 1998. Tetapi hitungannya kan tidak cuma teknikal, untuk tembus ke Rp17.000 per dolar AS juga tidak mudah,” ujarnya dihubungi Bisnis.

Menurut Wahyu, intervensi sebanyak apapun yang dilakukan pemerintah tidak akan memberikan pengaruh yang besar pada pergerakan rupiah. Menurutnya, pergerakan mata uang saat ini sangat terfokus pada dolar AS, keputusan Federal Reserve AS, serta imbal hasil dan pembayaran utang yang meningkat.

“Logikanya, seharusnya sebelum terjadi krisis yang lebih parah, akan terjadi balancing. Karena kalau mata uang di emerging market jatuh, maka akan menyeret mata uang Eropa jatuh juga, dan akhirnya mata uang AS pun akan terdampak,” lanjutnya.

Wahyu menambahkan bahwa saat ini valuasi saham AS sangat tinggi dan mengalami stock bull market terpanjang dalam sejarah. Jika terus seperti itu, kemungkinan rupiah bisa berbalik menguat karena mata uang di emerging market lain relatif lebih baik dan potensial.

“Sulit bagi dolar AS jika terlalu lama menguat. Selanjutnya, yang bisa semakin melemahkan rupiah adalan penguatan harga minyak mentah global yang akan menambah beban kepada emerging market,” ujarnya.

Untuk jangka pendek, Wahyu memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp14.800 – Rp15.300 per dolar AS.

Untuk komoditas yang terdampak dari penguatan dolar AS, menurut Wahyu seluruh komoditas yang dihargai dengan dolar AS atau yang menggunakan mata uang berlawanan dengan dolar AS akan terpengaruh. Besaran pengaruhnya kembali bergantung pada fundamental masing-masing.

“Secara umum, semua komoditas terutama mata uang yang melawan dolar AS akan melemah. Logika tadi berbeda kalau sentimen fundamentalnya lebih kuat. Masih ada pandangan dari investor, spekulasi, tren, taruhan bullish dan bearish dari pasar,” paparnya. 

Perdagangan mata uang, apalagi di emerging market, ujarnya, lebih rentan dan lebih terdampak langsung oleh pergerakan dolar AS dibandingkan dengan harga-harga komoditas.

“Misalnya, sebagai aset safe haven, yen, yuan, emas, akan menguat kalau dolar AS melemah karena cross currency flight. Lalu, kalau sentimen risk averse biasanya anjlok bersama dengan stock market, tetapi jika tidak terjadi maka bisa jadi imbang. Intinya jangan hitam putih melihatnya,” jelasnya.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top