Mirae Asset Sekuritas: Harga SUN Akan Melanjutkan Penurunan

Mirae Asset Sekuritas memperkirakan bahwa pada perdagangan hari ini, Rabu (3/10/2018) harga Surat Utang Negara atau SUN di pasar sekunder dibandingkan dengan kemarin masih akan melanjutkan penurunan dan yield diperkirakan meningkat.
Emanuel B. Caesario | 03 Oktober 2018 10:08 WIB
Memantau layar surat utang negara - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA--Mirae Asset Sekuritas memperkirakan bahwa pada perdagangan hari ini, Rabu (3/10/2018) harga Surat Utang Negara atau SUN di pasar sekunder dibandingkan dengan kemarin masih akan melanjutkan penurunan dan yield diperkirakan meningkat.

"Sentimen negatif masih didorong oleh proyeksi berlanjutnya depresiasi rupiah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya kekhawatiran investor global terhadap perkembangan ekonomi dan politik Italia maupun Uni Eropa serta masih tingginya tekanan dari kenaikan harga minyak mentah dunia," kata Dhian Karyantono Analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas dalam riset harian, Rabu (3/10/2018).

Berikut ini proyeksi rentang pergerakan harga dan imbal hasil seri-seri acuan SUN hari ini [harga (yieldnya)]:

FR0063 (15 Mei 2023): 90,35 (8,17%) - 90,75 (8,06%)
FR0064 (15 Mei 2028): 85,25 (8,39%) - 86.00 (8,26%)
FR0065 (15 Mei 2033): 84,60 (8,48%) - 85,20 (8,40%)
FR0075 (15 Mei 2038): 88,20 (8,77%) - 88,75 (8,70%)

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan bergerak fluktuatif pada kisaran Rp15.008 – Rp15.112 dengan kecenderungan melemah.

Dhian merekomendasikan investor untuk wait and see hari ini.

Adapun, pada perdagangan kemarin, SUN mengakhiri rentetan kenaikan harga di pasar sekunder. Pada perdagangan terakhir di pasar sekunder, rata-rata penurunan harga SUN dibandingkan dengan hari sebelumnya untuk kategori tenor pendek, tercatat sebesar 8,20 bps, sementara untuk kategori tenor menengah dan panjang mengalami rata-rata penurunan harga masing-masing sebesar 46,76 bps dan 56,47 bps.

Dengan demikian, yield SUN secara umum mengalami kenaikan di mana khusus benchmark 10 tahun meningkat ke level 8,10% dibandingkan dengan hari sebelumnya di level 7,97%.

Penurunan harga SUN di pasar sekunder kemarin secara umum disebabkan oleh kenaikan yield US Treasury khususnya tenor 10 tahun dan depresiasi rupiah terhadap dolar AS sebagai imbas dari meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap rancangan fiskal Italia dan kenaikan signifikan harga minyak mentah dunia.

Rupiah pada perdagangan terakhir, berdasarkan Bloomberg spot, menembus level psikologis baru yaitu level Rp15.000 per dolar AS yang ditutup di level Rp15.043 per dolar AS atau melemah 0,90% dibandingkan dengan hari sebelumnya.

Sementara itu, nominal transaksi obligasi pemerintah di pasar sekunder mengalami peningkatan dibandingkan dengan hari sebelumnya yang didominasi oleh SUN tenor pendek dan menengah sedangkan secara frekuensi transaksi cenderung menurun yang didominasi oleh SUN tenor menengah dan panjang.

Pada perdagangan pasar global, yield US Treasury 10 tahun turun sementara indeks dolar AS melanjutkan peningkatan.

Yield US Treasury 10 tahun pada perdagangan global semalam ditutup menurun terbatas di level 3,06% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya di level 3,09%.

Hal tersebut diperkirakan didorong oleh meningkatnya minat investor global terhadap aset safe haven di tengah meningkatnya risiko ekonomi dan politik Italia yang tercermin dari tren kenaikan yield obligasi Italia khususnya tenor 10 tahun hingga ditutup di level 3,44% (sebelumnya 3,30%) pada perdagangan terakhir.

Berdasarkan perkembangan terbaru, Pemerintah Italia bersikukuh untuk tetap melanjutkan rancangan anggaran 2019 – 2021 dengan tingkat defisit anggaran ditetapkan sebesar 2,4% PDB sekaligus mengindahkan Komisi Uni Eropa untuk menurunkan target defisit tersebut.

Selain itu, isu ekonomi menjalar ke politik setelah beberapa petinggi partai pemerintahan baru Italia menyerukan untuk kembali menggunakan Lira Italia sekaligus memperbesar kemungkinan Italia keluar dari keanggotaan Uni Eropa yang pada akhirnya mendorong mata uang euro melanjutkan depresiasinya terhadap dolar AS sebesar 0,25% ke level 0,866 euro.

Bauran sentimen antara depresiasi euro dan meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven mendorong apresiasi dolar AS yang tercermin dari kenaikan indeks dolar AS di kisaran 95,45 poin – 95,51 poin, dibandingkan hari sebelumnya di level 95,13 – 95,30 poin.

Dalam perkembangan lain, harga minyak mentah dunia masih cenderung tinggi. Harga minyak mentah dunia pada perdagangan terakhir relatif stabil di level US$75,23per barel untuk kategori WTI sementara untuk kategori brent cenderung stagnan di level US$84,80 per barel.

Hal tersebut utamanya masih didorong oleh kekhawatiran pasar terkait kelangkaan suplai minyak mentah dunia jelang sanksi ekonomi Iran oleh AS. Selain itu, pasar tampaknya juga menunggu sentimen dari rilis data cadangan minyak mentah AS pada minggu ini.

Tag : Obligasi
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top