Rupiah Tembus Rp15.000-an Per Dolar AS, Ini Pemicunya

Rupiah kembali melemah di hadapan dolar Amerika Serikat hingga menyentuh Rp15.000 per dolar AS di tengah-tengah kian buruknya sentimen pada aset dari negara berkembang dilihat dari defisit transaksi berjalan yang makin melebar.
Mutiara Nabila | 02 Oktober 2018 12:13 WIB
Perbandingan kurs rupiah tahun 1998, 2008, dan 2018. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali melemah di hadapan dolar Amerika Serikat hingga menyentuh Rp15.000 per dolar AS di tengah-tengah kian buruknya sentimen pada aset dari negara berkembang dilihat dari defisit transaksi berjalan yang makin melebar.

Pergerakan kurs rupiah pada Selasa (2/10) smepat menyentuh Rp15.009 per dolar AS dan kembali ke Rp14.997 per dolar AS, melemah 86,5 poin atau 0,58%. Posisi tersebut menjadi yang terlemah sejak krisis keuangan di Asia pada Juli 1998 silam.

Rupiah juga kini mencatatkan pelemahan hingga lebih dari 9% di hadapan dolar AS sepanjang 2018 berjalan. Sementara itu, indeks dolar AS masih mengalami penguatan tipis 0,02% di posisi 95,31. Adapun, defisit transaksi Indonesia diperkirakan melebar menjadi 2,6%.

Ahli strategi pasar IG Asia Pte di Singapura Jingyi Pan mengatakan bahwa pelemahan rupiah merupakan akibat dari sentimen buruk di seputar emerging market dan kerentanan dari kondisi domestik di Indonesia sendiri.

Mata uang Garuda melorot meskipun Bank Indonesia (BI) sudah melakukan intervensi di pasar finansial dan meningkatkan suku bunga hingga lima kali sejak Mei untuk menurunkan aksi jual. Sentimen pada rupiah sebagai aset kian memburuk karena CAD Indonesia yang terus melebar membuat Indonesia dinilai lebih rentan pada kekacauan finansial global seperti yang sebelumnya sudah terjadi di Turki dan Argentina.

 “Kelihatannya sentimen sangat berpengaruh besar pada penjualan saat ini, terpengaruh dari dua sisi, sentimen ke emerging market dan kekhawatiran akan kenaikan tensi perang dagang yang memang menguatkan rupiah,” paparnya, dikutip dari Bloomberg, Selasa (2/10).

Bank Indonesia telah mengumumkan akan mengeluarkan Non-deliverable Forward (NDF), yang dianggap bisa menjadi alternatif bagi perusahaan yang ingin melakukan lindung nilai dolar AS dan membantu mengurangi volatilitas rupiah.

Aksi tersebut dinilai Jingyi cukup membantu dengan berjalan bersama pemerintah untuk meningkatkan ekspor dan menahan impor.

Analis PT Monex Investindo Futures Putu Agus Pransuamitra mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah saat ini masih menjadi akibat dari sentimen domestik yang membuat dolar AS menguat tajam. Selain perang dagang, AS yang sudah kembali melakukan kesepaktan dagang dengan Kanada dan Meksiko membuat dolar AS kembali bergerak positif.

“Kemarin meningkatkan suku bunga itu lebih untuk mengimbangi kenaikan suku bunga dari AS, bukan sebagai intervensi. Pemerintah mungkin bisa mencoba mengendalikan CAD untuk membantu menopang rupiah,” ujarnya saat dihubungi Bisnis lewat telepon, Selasa (2/10).

Untuk upaya dari domestik sendiri menurut Putu sudah cukup baik, namun memang tekanan dari eksternal terlalu kuat sehingga rupiah kesulitan menguat. Dari segi tahun politik sendiri yang cukup damai juga sebenarnya sudah menjadi senitimen positif bagi rupiah.

“Sentimen negatif lainnya juga mungkin bencana alam yang sedang terjadi saat ini, menyebabkan investor asing menjauh dari perdagangan rupiah dulu,” lanjutnya.

Putu memproyeksikan rupiah dalam sepekan ke depan bila melemah bisa berada di kisaran Rp15.050 per dolar AS. Sementara itu, apabila dolar AS terkoreksi, mata uang Garuda bisa kembali menguat ke Rp14.860 per dolar AS.

 

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah, dolar as
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top