MNC Sekuritas: Laju Inflasi & Aksi Beli Asing Jadi Katalis Pasar SUN

MNC Sekuritas memperkirakan bahwa pada perdagangan hari ini, Selasa (2/10/2018) harga Surat Utang Negara (SUN) masih berpotensi untuk mengalami kenaikan yang didukung oleh terkendalinya laju inflasi pada 2018 serta masih berlanjutnya akumulasi pembelian Surat Berharga Negara oleh investor asing.
Emanuel B. Caesario | 02 Oktober 2018 09:31 WIB
SURAT UTANG NEGARA

Bisnis.com, JAKARTA--MNC Sekuritas memperkirakan bahwa pada perdagangan hari ini, Selasa (2/10/2018) harga Surat Utang Negara (SUN) masih berpotensi untuk mengalami kenaikan yang didukung oleh terkendalinya laju inflasi pada 2018 serta masih berlanjutnya akumulasi pembelian Surat Berharga Negara oleh investor asing.

I Made Adi Saputra, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa meskipun demikian, kenaikan harga yang terjadi pada perdagangan hari ini akan kembali dibatasi oleh faktor kenaikan imbal hasil US Treasury serta pelaku pasar masih akan menantikan data cadangan devisa September 2018 yang akan disampaikan pada Jumat, 5 Oktober 2018.

Adapun pada hari ini pemerintah akan mengadakan lelang penjualan Sukuk Negara dengan target penerbitan senilai Rp4 triliun.

Dengan pertimbangan beberapa faktor di atas, Made masih menyarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder.

"Peluang kenaikan harga Surat Utang Negara pada perdagangan hari dapat dimanfaatkan oleh investor untuk melakukan strategi trading jangka pendek dengan pilihan beberapa seri sebagai berikut : FR0053, FR0061, FR0043, FR0046, FR0070, FR0042, FR0056, FR0052 dan FR0058," katanya dalam riset harian, Selasa (2/10/2018).

Adapun bagi investor yang ingin menempatkan dananya pada Sukuk Negara dapat mengikuti lelang yang diadakan oleh pemerintah pada hari ini melalalui peserta lelang yang ditunjuk oleh pemerintah.

Dalam Lelang Surat Berharga Syariah Negara atau Sukuk Negara hari ini, ada 6 seri yang dilepaskan yakni seri SPN-S 03042019 (New Issuance), SPN-S 03072019 (New Issuance), PBS016 (reopening), PBS019 (New Issuance), PBS012 (reopening) dan PBS015 (reopening).

Badan Pusat Statistik menyatakan bahwa terjadi deflasi pada September 2018 sebesar 0,18%. Dengan laju inflasi yang terjaga, maka imbal hasil Surat Utang Negara menjadi menarik untuk kembali diakumulasi oleh investor.

Secara keseluruhan, kenaikan harga Surat Utang Negara pada perdagangan Senin (1/10/2018) mendorong terjadinya penurunan imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 5 tahun sebesar 21 bps di level 7,774% dan tenor 10 tahun mengalami penurunan imbal hasil sebesar 9 bps di level 7,964%.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah pada perdagangan kemarin mengalami pelemahan terbatas terhadap dolar Amerika, sebesar 8,00 pts (0,05%) dan ditutup di level Rp14.910,5 per dolar AS.

Imbal hasil surat utang global pada perdagangan kemarin bergerak bervariasi dengan kecenderungan mengalami kenaikan dipimpin oleh kenaikan imbal hasil US Treasury.

Imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup dengan mengalami kenaikan di level 3,084% dan tenor 30 tahun imbal hasilnya mengalami kenaikan di level 3,236% yang didukung oleh adanya kesepakatan dagang antara pemerintah Amerika Serikat dengan Kanada.

Seiring dengan kenaikan harga yang terjadi sejak pertengahan bulan September 2018, harga Surat Utang Negara secara teknikal masih berada pada tren kenaikan harga yang terjadi pada sebagian besar seri Surat Utang Negara.

Hanya beberapa seri Surat Utang Negara dengan tenor di atas 20 tahun yang pergerakan harganya cenderung masih mendatar (sideways).

Tag : Obligasi
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top