IHSG Kian Terbebani Pelemahan Rupiah

Pemerintah diminta untuk melakukan pemangkasan subsidi bahan bakar minyak (BBM) untuk membantu penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Tegar Arief | 02 Oktober 2018 23:52 WIB
Pengunjung berada di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham, di Jakarta, Senin (10/9/2018). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk melakukan pemangkasan subsidi bahan bakar minyak (BBM) untuk membantu penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang menilai, pelemahan mata uang domestik ini dipicu oleh naiknya harga minyak dunia. Menurutnya, pemerintah harus menaikkan harga BBM di kisaran Rp1.000-Rp1.500.

Harga minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman November menguat 2,8% atau 2,05 poin ke level US$75,30 per barel di New York Mercantile Exchange, level tertinggi sejak 24 November 2014.

Bahkan, kata Edwin, banyak pihak memproyeksikan harga tersebut akan bergerak menuju US$100 per barel. Sementara itu, impor Indonesia untuk komoditas tersebut cukup besar.

"Melemahnya rupiah ini berdampak juga ke indeks harga saham gabungan yang tertekan. Faktor utama pelemahan indeks adalah harga minyak. Makanya perlu ada pemangkasan subsidi dan penyesuaian harga," kata dia saat dihubungi Bisnis.com, Selasa (2/10/2018).

Direktur Investa Saran mandiri Hans Kwee menambahkan, rupiah memiliki kontribusi terhadap pergerakan indeks. Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup di zona merah dengan pelemahan 0,89% atau 132 poin ke level Rp15.043 per dolar AS.

Pada Selasa (2/10/2018), IHSG ditutup melemah 68.98 atau -1,16% ke level 5.875,62. Investor asing tercatat net sell Rp98,71 miliar dengan saham BMRI, BBCA dan UNTR menjadi top net sell value investor asing.

Dia memprediksi, pada akhir tahun indeks harga saham gabungan (IHSG) akan berada pada kisaran 5.823-6.200.

Menurutnya, pemerintah harus melakukan strategi untuk meminimalisasi importasi minyak. Salah satunya dengan mengembangkan pasar kendaraan bertenaga listrik, baik melalui manufaktur di dalam negeri atau melakukan importasi.

"Kalau listrik kan diproduksi di dalam negeri, sedangkan minyak masih impor. Konsumsi kita sekitar 1,6 juta barel, sedangkan produksi hanya sekitar 800.000 barel," ujarnya.

Hans menambahkan, untuk saat ini pemerintah dan otoritas keuangan harus fokus pada penguatan nilai tukar. Sebab, pelemahan rupiah akan berdampak pada semua sektor, baik pasar modal maupun sektor riil.

Investor asing tercatat net sell 98.71 Miliar rupiah dengan saham BMRI, BBCA dan UNTR menjadi top net sell value investor asing.

Tag : IHSG
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top