Oktober 2018, Adhi Karya (ADHI) Akan Terima Pembayaran LRT Jabodebek Rp3,6 Triliun

PT Adhi Karya (Persero) Tbk. optimistis pembayaran pengerjaan proyek light rail transit Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi senilai Rp3,6 triliun yang akan diterima, pada Oktober 2018, akan mengerek arus kas dari aktivitas operasi perseroan.
M. Nurhadi Pratomo | 02 Oktober 2018 00:35 WIB
Warga berada dalam kereta api ringan atau light rail transit (LRT) saat uji coba operasi terbatas di Stasiun Velodrome Rawamangun, Jakarta, Senin (10/9). PT Jakarta Propertindo (Jakpro) melakukan proses uji coba moda transportasi LRT Jakarta secara terbatas yang membentang dari Stasiun Velodrome Rawamangun hingga Stasiun Boulevard Utara Kelapa Gading sepanjang 5,8 km dan berlangsung hingga hingga 20 September 2018. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA— PT Adhi Karya (Persero) Tbk. optimistis pembayaran pengerjaan proyek light rail transit Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi senilai Rp3,6 triliun yang akan diterima, pada Oktober 2018, akan mengerek arus kas dari aktivitas operasi perseroan.

Direktur Keuangan Adhi Karya Entus Asnawi M. mengatakan sampai dengan saat ini pembayaran yang diterima perseroan baru Rp3,4 triliun dari light rail transit (LRT) Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodebek). Jumlah tersebut merupakan pembayaran tahap pertama untuk progres pengerjaan proyek hingga September 2017.

Untuk pembayaran tahap kedua, Entus menyebut saat ini sedang ditagihkan dan dalam pemeriksaan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Ditargetkan, dana tersebut dapat masuk ke kantong emiten berkode saham ADHI itu pada Oktober 2018.

“Rp3,6 triliun include pajak pertambahan nilai [PPN],” ujarnya kepada Bisnis.com, Senin (1/10).

Dia menyebut terjadi perubahan dasar penghitungan progres pengerjaan untuk pembayaran tahap kedua dari per Desember 2017 menjadi per Juni 2018. Dengan demikian, perkiraan jumlah yang diterima ADHI bertambah dari proyeksi semula sekitar Rp2 triliun.

“Progres yang ditagihkan sampai dengan Juni 2018 sebesar 33%. Untuk progres sampai dengan minggu lalu berdasarkan perhitungan internal sebesar 45%,” paparnya.

Dengan masuknya pembayaran tahap kedua, Entus memproyeksikan akan berdampak positif terhadap kinerja keuangan perseroan. Menurutnya, posisi kas operasi akan positif dan kas rasio akan lebih kuat.

Dana yang masuk, sambungnya, dapat digunakan untuk menurunkan leverage atau beban bunga. Strategi yang ditempuh yakni dengan mengendalikannya melalui net debt to equity ratio.

Berdasarkan laporan keuangan semester I/2018, arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi ADHI senilai Rp330,59 miliar. Posisi itu turun dari Rp2,21 triliun per 30 Juni 2018.

Sebagai catatan, proyek LRT terdiri atas jalur pelayanan Cawang—Cibubur, Cawang—Kuningan—Dukuh Atas, Cawang—Bekasi Timur, Dukuh Atas—Palmerah-Senayan, Cibubur—Bogor, dan Palmerah—Grogol. Dalam proyek LRT itu, ADHI menjadi kontraktor berdasarkan penugasan pemerintah.

Adapun, nilai kontrak yang dibukukan oleh ADHI dari proyek itu senilai Rp19,7 triliun atau salah satu kontrak terbesar yang dikantongi perseroan pada 2017.

Dalam riset yang dipublikasikan melalui Bloomberg, analis Samuel Sekuritas Indonesia Akhmad Nurcahyadi menjelaskan bahwa bisnis sektor konstruksi selalu lebih baik pada semester II setiap tahunnya. Periode tersebut berperan signifikan dalam pencapain target perseroan maupun proyeksi atau konsesus.

Di sisi lain, ekspektasi pembayaran kuartalan proyek LRT akan memudahkan ADHI mencapai proyeksi 2018 dan 2019. Oleh karena itu, pihaknya mempertahankan rekomendasi beli untuk saham perseroan dengan target harga jangka panjang di level Rp3.250 per saham.

Berdasarkan data Bloomberg, harga saham ADHI ditutup menguat 20 poin atau 1,44% ke level Rp1.410 pada penutupan perdagangan, Senin (1/10). Total kapitalisasi pasar yang dimiliki senilai Rp5,02 triliun dengan price earning ratio (PER) 11,85 kali.

Tag : adhi karya, kinerja emiten
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top