Proyeksi Indeks: LQ45 Kinerja Kuartal IV Cenderung Menguat

Indeks LQ45 diperkirakan mengalami tren meningkat pada kuartal IV/2018 akibat kenaikan sejumlah saham blue chip seiring dengan petumbuhan kinerja dan meredanya dampak gejolak global.
Hafiyyan | 02 Oktober 2018 15:38 WIB
Karyawan melintas di bawah layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (13/9/2018). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA—Indeks LQ45 diperkirakan mengalami tren meningkat pada kuartal IV/2018 akibat kenaikan sejumlah saham blue chip seiring dengan petumbuhan kinerja dan meredanya dampak gejolak global.

Pada Januari—September 2018, Indeks LQ45 menurun 12,27% menjadi 946,91 dari akhir 2017 di level 1.709,38. Namun, pada kuartal III/2018 indeks meningkat 4,17% dari posisi per Juni 2018 di level 908,97.

Head of research Samuel Sekuritas Indonesia Andy Ferdinand menyampaikan, secara umum Indeks Harga Saham Gabungan berpotensi menguat pada kuartal IV/2018. Sentimen yang mendorong ialah berkurangnya tekanan global, seperti peluang Federal Reserve tidak lagi menaikkan suku bunga dan meredanya perang dagang AS dengan China.

“Bila sentimen global mereda, umumnya saham-saham blue chip di LQ45 akan naik, sehingga turut mendorong IHSG. Selain itu, kinerja emiten besar diperkirakan meningkat. Namun, diperkirakan kenaikan [saham] belum akan signifikan,” ujarnya saat dihubungi, Senin (1/10/2018).

Menurutnya, sektor saham yang cenderung mengalami kenaikan pada kuartal IV/2018 ialah perbankan, pertambangan, dan konsumsi. Saham tambang sebelumnya juga sudah terdorong sepanjang tahun ini akibat kenaikan harga komoditas.

Adapun, emiten perbankan diperkirakan akan merasakan dampak kenaikan suku bunga, khususnya pada kuartal IV/2018. Hal ini akan tercermin ke dalam peningkatan suku bunga deposito dan suku bunga kreditnya.

Oleh karena itu, Net Interest Margin (NIM) perbankan cenderung menurun. Bank yang dapat mengatasi dampak tersebut ialah bank-bank besar, khusunya BUMN yang diuntungkan dengan proyek pemerintah, seperti infrastruktur dan KPR subsidi.

Saham perbankan pilihan Andy ialah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dengan target Rp8.200, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) Rp26.250, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) Rp3.800, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) Rp9.050. Target ini berlaku sampai dengan pertengahan 2019.

Dia berpendapat, tingkat permintaan cenderung mengalami kenaikan pada semester II/2018, sehingga dapat mengerek kinerja emiten konsumsi.  Namun, tantangannya ialah pelemahan rupiah karena beberapa perusahaan masih mengandalkan bahan baku impor.

Emiten favoritnya di sektor konsumsi ialah PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dengan target harga Rp10.200. 

Kepala Riset Narada Kapital Indonesia Kiswoyo Adi Joe menyampaikan, pada kuartal IV/2018 IHSG setidaknya masih berpotensi mencapai level 6.500. Indeks terutama didorong oleh perbaikan kinerja fundamental dan saham-saham blue chip di LQ45.

“Seharusnya sentiment Fed dan faktor-faktor global sudah diprediksi, sehingga saham blue chip dapat kembali naik."

Saham emiten berkapitalisasi pasar jumbo favoritnya di sektor perbankan ialah BBRI dengan target harga Rp3.800, BBNI Rp9.000, BMRI Rp8.000-an, dan BBCA Rp28.000. 

Selanjutnya, Kiswoyo menjagokan saham PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) Rp4.500, PT Astra International Tbk. (ASII) Rp8.500, PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) Rp49.000, PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) Rp5.000, dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) Rp4.000, 

“Target harga ini seharusnya bisa tercapai sampai akhir 2018.”

Tag : Indeks BEI
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top