Perkonomian AS Kian Kuat, Harga Logam Mulia Memerah

Harga emas kembali melorot setelah turun selama 6 bulan berturut-turut hingga September, penurunan terpanjang serupa dengan 1997. Investor masih mempertimbangkan laju pengetatan kebijakan moneter dari Federal Reserve AS dan perang dagang AS dan China yang semakin memanas.
Mutiara Nabila | 01 Oktober 2018 20:40 WIB
Ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas kembali melorot setelah turun selama 6 bulan berturut-turut hingga September, penurunan terpanjang serupa dengan 1997. Investor masih mempertimbangkan laju pengetatan kebijakan moneter dari Federal Reserve AS dan perang dagang AS dan China yang semakin memanas.

Beberapa fundamental yang menjadi pendorong penguatan dolar AS di antaranya adalah Negeri Paman Sam dan Kanada telah setuju untuk membuat kesepakatan dagang sehingga mengamankan perdagangan tiga blok bersama dengan Meksiko. Selain itu, ketiga negara menyiapkan langkah selanjutnya, yakni menandatangani kesepakatan itu sebelum akhir November.

Pimpinan Federal Reserve New York John Williams menyebutkan akan melanjutkan kenaikan suku bunga melihat perekonomian AS yang menguat sehingga menekan jumlah pengangguran di AS ke titik terendah selama setengah abad.

Bank Investasi JPMorgan Chase & Co. memperkirakan bahwa kenaikan tensi dagang antara AS dan China akan semakin memanas, memunculkan potensi bahwa AS dan China akan kembali saling meluncurkan tarif.

Pada perdagangan Senin (1/10), harga emas spot mengalami penurunan 4,37 poin atau 0,37% menjadi US$1.186,51 per troy ounce dan mengalami penurunan 8,29% selama tahun berjalan. Harga emas spot sempat menyentuh titik terendahnya sejak pertengahan Agustus pada US$1.180 per troy ounce.

Sementara itu, harga emas Comex membukukan penurunan sebanyak 6 poin atau 0,50% menjadi US$1.190,20 per troy ounce dan mengalami penurunan 9,43% secara year-to-date (ytd).

Direktur Bidang Komoditas dan Mata Uang Asing di UBS Group AG Wayne Gordon menuturkan bahwa penguatan dolar AS yang diperkirakan hingga akhir tahun akan terus membawa tekanan pada harga emas.

“Ada beberapa tanda tanya di sekitar kemungkinan bahwa The Fed akan kembali membicarakan isu perdagangan dan dampaknya pada perdagangan di AS, tapi The Fed sepertinya nyaman dengan pertumbuhan ekonomi saat ini. Selain itu, pasar tenaga kerja juga sudah semakin mengetat,” kata Gordon, dikutip dari Bloomberg, Senin (1/10/2018).

Dia menambahkan bahwa The Fed saat ini sangat percaya diri, menunjukkan kemungkinan bank sentral AS itu akan kembali menaikkan suku bunganya pada Desember mendatang.

Pada sesi perdagangan yang sama, harga logam mulia lainnya juga serentak memerah dengan perak spot tercatat turun 0,06 poin atau 0,41% menjadi US$14,59 per troy ounce dan turun 13,83% (ytd). Adapun, harga perak Comex tercatat turun 0,08 poin atau 0,56% menjadi US$14,63 dan turun 14,67% .

Selanjutnya, platinum spot mengalami penurunan tipis 0,14 poin atau 0,02% menjadi US$815,81 per troy ounce dan turun 12,11% (ytd). Kemudian, platinum Comex mengalami penurunan hingga 4,20 poin atau 0,51% menjadi US$818,20 dan membukukan penurunan 13,08% .

Sementara itu, harga paladium spot mengalami penurunan tajam hingga 6,52 poin atau 0,61% menjadi US$1.068,48 per troy ounce dan mencatatkan kenaikan harga cukup tipis hanya 0,47% (ytd). Diikuti oleh paladium spot yang melemah tajam hingga 13,40 poin atau 1,25% menjadi US$1.059,40 dan mengalami penurunan  0,15%.

Tag : komoditas, logam
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top