Pasokan Mengetat, Seng Pimpin Kenaikan Harga Logam Dasar

Komoditas seng bersama dengan logam dasar lainnya di bursa London kompak menghijau karena terdorong oleh penyusutan pasokan.
Mutiara Nabila | 30 September 2018 21:09 WIB
Aktivitas di smelter PT Timah di Muntok, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung - Reuters/Beawiharta

Bisnis.com, JAKARTA – Komoditas seng bersama dengan logam dasar lainnya di bursa London kompak menghijau karena terdorong oleh penyusutan pasokan.

Pimpinan Amalgamated Metal Trading Ltd Richard Fu mengatakan bahwa pengetatan pasokan konsentrat, cadangan yang makin menipis, dan potensi China yang melakukan penimbunan pasokan sehingga meredupkan permintaan membuat harga seng mengalami kenaikan.

Pada penutupan perdagangan Jumat (28/9), harga seng di bursa London Metal Exchange (LME) mengalami kenaikan terkuat dibandingkan dengan logam dasar lainnya sebesar 106 poin atau 4,23% menjadi US$2.612 per ton.

Adapun, kontrak tunainya diperdagangkan dengan premium US$41,50 per ton dengan kontrak berjangka tiga bulan, jarak tersempit terbesar sejak 6 Agustus yang menggambarkan bahwa pasokan untuk pengiriman terdekat kini makin mengetat.

Selain itu, surat pembatalan penarikan atau cancelled warrant untuk seng juga menurun 2.225 ton menjadi 64.950 ton. Meskipun secara fundamental membaik, tetapi seng masih mencatatkan penurunan harga hingga 21,30% secara year-to-date (ytd), paling parah jika dibandingkan dengan penurunan harga logam dasar lainnya sepanjang 2018.

“Saya masih memberikan pandangan harga logam ini tetap dalam zona bearish, tapi kemungkinan masalah perang dagang dan kenaikan suku bunga Amerika Serikat yang menguatkan dolar AS bisa membatas reli harga logam dasar,” lanjut Fu, seperti dikutip dari Bloomberg, Minggu (30/9/2018).

Di China, pasar logam dasar juga diperkirakan akan semakin mengalami pengetatan pasokan menuju musim permintaan tertinggi pada sepanjang September hingga Oktober. Hal itu ditambah lagi dengan adanya sejumlah produksi domestik China yang tertahan karena adanya kebijakan lingkungan yang semakin ketat.

Logam dasar lainnya yang mengalami kenaikan adalah aluminium LME yang naik 32 poin atau 1,58% menjadi US$2.062 per ton dan mencatatkan penurunan 9,08% sepanjang 2018. Kemudian, harga tembaga juga naik 71 poin atau 1,15% menjadi US$6.258 per ton dan turun 13,65 secara ytd.

Selanjutnya, logam nikel juga mengalami kenaikan tipis 40 poin atau 0,32% menjadi US$12.600 per ton dan membukukan penurunan 1,25% sepanjang tahun ini. Menyusul, timah hitam yang terkerek 26 poin atau 1,29% menjadi US$2.036 per ton dan mencatatkan penurunan 18,15% selama tahun ini.

Adapun, timah putih mencatatkan kenaikan paling tipis, hanya 25 poin atau 0,13% menjadi US$18.875 per ton dan mencatatkan penurunan harga 5,74% sepanjang 2018 berjalan.

Tag : komoditas
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top