BEI Kantongi Tambahan Pipeline Obligasi Rp7 Triliun

Bursa Efek Indonesia mengantongi 5 pipeline emisi obligasi baru per akhir kuartal III/2018 yang diharapkan bisa listing tahun ini, dengan total nilai emisi Rp7 triliun.
Emanuel B. Caesario | 30 September 2018 17:30 WIB
Obligasi

Bisnis.com, JAKARTA — Bursa Efek Indonesia mengantongi 5 pipeline emisi obligasi baru per akhir kuartal III/2018 yang diharapkan bisa listing tahun ini, dengan total nilai emisi Rp7 triliun.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, kelima emiten obligasi tersebut yakni PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat senilai Rp2 triliun, PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) senilai Rp2 triliun, PT Angkasa Pura II (Persero) Rp1 triliun, PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) Rp1,19 triliun, dan PT PLN (Persero) Rp832 miliar.

Selain kelima pipeline baru ini, BEI juga masih mengantongi 5 emiten lain dengan 7 seri emisi yang juga sebelumnya sudah masuk dalam daftar tunggu tetapi belum listing. Dengan demikian, masih ada 12 seri emisi obligasi pada kuartal IV/2018 dengan total nilai emisi Rp14,82 triliun.

Kelima emiten tersebut yakni PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk. (TELE) dengan obligasi senilai Rp1,2 triliun, PT Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry dengan sukuk senilai Rp2,5 triliun, dan PT XL Axiata Tbk. (EXCL) dengan obligasi dan sukuk masing-masing Rp1 triliun.

Selanjutnya, PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA) dengan obligasi Rp600 miliar, dan PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) dengan obligasi dan sukuk masing-masing Rp500 miliar dan Rp1 triliun.  

IGD Nyoman Yetna Setia, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, mengatakan bahwa nilai emisi tentu masih akan bisa bertambah hingga akhir tahun sebab daftar tersebut akan terus diperbarui seiring adanya emiten baru yang mengajukan rencana emisi.

Sebelumnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo mengungkapkan bahwa hingga pertengahan September 2018, ada 31 emiten yang sudah mengajukan permohonan pemeringkatan dalam rangka emisi surat utang.

Total nilainya mencapai Rp40 triliun, termasuk di dalamnya yakni medium term notes (MTN) yang tidak dicatatkan di BEI. Bila mandat MTN senilai Rp8,2 triliun tidak diikutsertakan, maka total nilai mandat pemeringkatan emisi obligasi dan sukuk mencapai Rp31,8 triliun.

Niken Indriarsih, Kepala Divisi Pemeringkatan Korporasi Pefindo, mengatakan bahwa pipeline Pefindo sebanyak Rp40 triliun tersebut tidak mesti semuanya akan listing tahun ini.

Beberapa emiten mungkin saja akan membatalkan rencana emisinya bila peringkat yang diperoleh terlalu rendah atau pasar semakin melemah sehingga biaya dana meningkat. Pada kuartal III/2018, beberapa emiten sudah memutuskan untuk membatalkan atau menunda emisi, mayoritas dari MTN.

“Strategi emisi akan kembali pada kebijakan masing-masing perusahaan, tidak mesti semua rencana emisi akan direalisasikan tahun ini. Sebagian mungkin awal tahun depan atau malah dibatalkan,” katanya belum lama ini.

Adapun, Pefindo telah melakukan sejumlah aksi pemeringkatan pada periode 13 Juli 2018 – 19 September 2018 atas  beberapa emiten yang kini masuk pipeline BEI.

Pefindo menurunkan peringkat dari SMRA dari idA+ menjadi idA, tetapi menaikkan peringkat TELE dari idBB menjadi idBBB+ dan Lontar Papyrus dari idA menjadi idA+.  Sementara itu, peringkat Angkasa Pura II dipertahankan pada idAAA. Outlook keempatnya ditetapkan stabil.

Peringkat SMRA diturunkan lantaran tingkat utang perseroan diperkirakan akan tetap tinggi dalam jangka pendek hingga menengah sehingga akan melemahkan rasio keuangan perusahaan. Arus kas perseroan juga cukup agresif dalam 3 tahun ke depan di tengah kondisi pasar properti yang belum membaik.

Sementara itu, peringkat TELE dinaikkan setelah perseroan berhasil melunasi utang jatuh temponya senilai Rp514,5 miliar pada 2 Juli 2018. Statusnya sebagai distributor resmi terbesar Telkomsel meningkatnya prospeknya di tengah persaingan penjualan pulsa dengan pesaing online.

Peringkat Lontar Papyrus juga naik lantaran proyeksi kinerja keuangannya akan lebih kuat seiring naiknnya harga pulp.

Tag : Obligasi, bursa efek indonesia
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top