Kiwoom Sekuritas: Pergerakan Obligasi Diperkirakan di Rentang 55 bps

Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan pada pagi ini, Jumat (28/9/2018) pasar obligasi dibuka bervariasi dengan potensi rentang naik turun sebesar 55 bps.
Emanuel B. Caesario | 28 September 2018 09:06 WIB
Obligasi

Bisnis.com, JAKARTA- Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan  pada pagi ini, Jumat (28/9/2018) pasar obligasi dibuka bervariasi dengan potensi rentang naik turun sebesar 55 bps.

Maximilianus Nico Demus, Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa pasar obigasi yang diperkirakan turun sebelumnya, mendadak mengalami kenaikan meskipun tidak banyak akibat euforia dari kenaikkan tingkat suku bunga BI 7DRR.

Kemarin pun Bank Indonesia menyampaikan bahwa ketidakpastian masih tinggi dan tingkat pertumbuhan tidak merata.

Bank Indonesia juga telah menyiapkan amunisi baru yaitu Domestic Non Deliverable Forward dalam melindungi resiko nilai tukar.

Tidak seperti Non Deliverable Forward (NDF) di luar negeri, DNDF wajib didukung oleh underlying transaksi berupa perdagangan barang dan jasa, investasi dan pemberian kredit bank dalam valas.

Dengan adanya underlying ini, Bank Indonesia meyakini spekulan tidak akan bisa masuk.

Tentu hal ini merupakan sesuatu yang penting ditengah tengah volatilitas yang cukup tinggi dari Rupiah khususnya dimana biasanya spekulan cukup membawa pengaruh dalam hal ini.

Selain itu, dengan kenaikan Fed Rate yang tersisa 1x lagi, bukan tidak mungkin Bank Indonesia juga akan melakukan penyesuaian apabila dibutuhkan.

Seiring sejalan dengan keadaan Bank Indonesia, Bank Sentral Philipina juga menaikkan tingkat suku bunganya sebesar 50 bps.

Pengetatan moneter sudah mulai terlihat akibat dari kenaikan tingkat suku bunga The Fed.

"Kami merekomendasikan hold hari ini, apabila ada pergerakan pasar melebihi 55 bps, maka akan menjadi arah selanjutnya," katanya dalam riset harian, Jumat (28/9/2018).

Adapun, pada perdagangan kemarin, total transaksi dan frekuensi meningkat dibandingkan hari sebelumnya di tengah penantian akan pengumuman kenaikkan BI Rate kemarin.

Total transaksi didominasi oleh obligasi berdurasi < 1 tahun, diikuti dengan 1 – 3 tahun dan 10 – 15 tahun. Sisanya tersebar tidak merata di semua tenor hingga 25 tahun.

Para pelaku pasar dan investor kemarin sudah memperkirakan kenaikan tingkat suku bunga, hanya saja kepastian dari Bank Indonesia yang membuatnya semuanya jelas.

Sementara itu, pada perdagangan pasar global kemarin, imbal hasil obligasi zona Amerika ditutup bervariasi, didominasi oleh penurunan imbal hasil. Kenaikkan imbal hasil terbesar ada di Kanada (2.41%, +0.9). Penurunan imbal hasil terbesar ada di Brazil (11.59%, -10).

Imbal hasil wilayah zona Eropa ditutup bervariasi, didominasi oleh kenaikkan imbal hasil. Kenaikkan imbal hasil terbesar ada di Italia (2.88%, +2.8). Penurunan imbal hasil terbesar ada di Portugal (1.85%, -2.2).

Imbal hasil Asia Pasifik di tutup bervariasi, didominasi oleh penurunan imbal hasil. Kenaikkan imbal hasil terbesar ada di Philipina (6.88%, +7.3). Penurunan imbal hasil terbesar ada di Korea Selatan (2.33%, -5.0).

Imbal hasil Obligasi Indonesia 10 tahun ditutup menguat di 8.17% dibandingkan hari sebelumnya di 8.23%.

Minyak Texas di tutup naik di harga 72.12 dibandingkan hari sebelumnya 71.57.

Rupiah di tutup melemah di 14.923 dibandingkan hari sebelumnya di 14.911.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top