Manajer Investasi Ubah Strategi Portofolio Reksa Dana Pendapatan Tetap

Sejumlah manajer investasi melakukan perubahan strategi terhadap portofolio reksa dana pendapatan tetap untuk mengantisipasi berlanjutnya koreksi return akibat tingginya volatilitas pasar saat ini.
Tegar Arief | 28 September 2018 07:35 WIB
Obligasi

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah manajer investasi melakukan perubahan strategi terhadap portofolio reksa dana pendapatan tetap untuk mengantisipasi berlanjutnya koreksi return akibat tingginya volatilitas pasar saat ini.

Berdasarkan data Infovesta Utama, kinerja indeks reksa dana pendapatan tetap yang tercermin melalui Infovesta Fixed Income Fund Index tercatat -4,26% secara year-to-date (ytd) per 21 September 2018. Padahal, indeks acuan reksa dana pendapatan tetap yakni Infovesta Government Bond Index+Infovesta Corporate Bond Index masih tercatat positif, yakni sebesar 0,25%.

Adapun, saat ini tingkat volatilitas di pasar obligasi kian meningat seiring dengan tren kenaikan suku bunga acuan sepanjang tahun berjalan 2018. Terbaru, Bank Sentral menaikkan suku bunga dalam Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang berakhir Selasa (26/9). Suku bunga naik sebesar 25 bps menjadi 2,00%—2,25%, merupakan kenaikan yang ketiga kalinya pada tahun ini. 

Sejalan dengan itu, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 26-27 September 2018 memutuskan untuk menaikan BI 7-day Reverse Repo Rate (7DRR) 25 bps menjadi 5,75%.

Executive Vice President Intermediary Business Schroders Indonesia Bonny Iriawan mengatakan bahwa tergerusnya kinerja indeks reksa dana dengan aset dasar obligasi membuat manajer investasi memutar otak untuk bisa mempertahankan kinerja.

Salah satu yang bisa dilakukan fund manager adalah meminimalisir risiko dengan cara memindahkan portofolio investasi ke aset obligasi dengan tenor yang lebih pendek. Obligasi dengan tenor pendek memiliki risiko yang lebih rendah dibandingkan dengan tenor panjang. "Itu otomatis akan dilakukan, fund manager akan mengurangi durasi," ujarnya, Kamis (27/9/2018).

Selain itu, lanjut Bonny, perseroan juga akan menyediakan ‘tempat parkir’dana nasabah bagi investor yang ingin menarik investasinya dari reksa dana pendapatan tetap. Produk dengan tingkat risiko rendah dinilai cukup ideal untuk menampung dana sembari menunggu pemulihan pasar.

"Ada banyak produk yang bisa diandalkan sebagai produk parkir untuk kondisi market seperti saat ini, di antaranya reksa dana campuran dan reksa dana pasar uang," lanjutnya.

Head Investment Avrist Asset Management Farash Farich menambahkan, reksa dana pendapatan tetap memiliki durasi yg lebih panjang dari benchmark sehingga koreksi atau penurunan selama tahun berjalan lebih dalam.

Menurutnya, sejumlah indeks obligasi juga masih mencatatkan penurunan. Indeks IBPA Government Bond Index, Bloomberg Indonesia Sovereign Index, dan Markit Iboxx ALBI Indonesia masih mencatatkan kinerja negatif antara -5% hingga -5,5%.

Adapun, dalam sepekan terakhir, sambungnya, pasar obligasi telah berhasil rebound sekitar 1,3%-1,8% yang didorong oleh pelemahan indeks dolar AS sebesar 0,8%. Ini memberikan sentimen positif investor asing terhadap obligasi emerging market, termasuk Indonesia. 

"Namun, sekarang kembali melemah akibat US treasury yield yang sudah naik kembali ke 3,1% setelah sebelumnya lama diam di 2,8%. Jadi volatilitas pasar obligasi kelihatannya belum selesai," jelasnya.

 Menurutnya, investor tetap perlu melakukan pengelolaan dengan hati-hati. Salah satunya memilih produk reksa dana dengan aset dasar obligasi bertenor pendek atau dengan meminimalisir risiko dengan cara melakukan pembelian secara bertahap.

"Terutama untuk investor yang fokusnya di capital gain. Alternatifnya reksa dana pendapatan tetap atau terproteksi yang secara rutin membagikan hasil investasi ke investor sehingga investor paling tidak masih menikmati keuntungan dari kupon underlying."

Head of Investment PT Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai, potensi reksa dana pendapatan tetap untuk bisa terangkat pada sisa tahun ini memang cukup berat. Bahkan, kinerja negatif itu diprediksi akan bertahan hingga pergantian tahun, khususnya untuk produk yang menggunakan aset dasar surat utang negara (SUN).

Menurutnya, kinerja SUN telah terkoreksi hingga 20%. Penyebabnya adalah kenaikan suku bunga yang terus dilakukan oleh bank sentral. Adapun, yield SUN tenor 10 tahun telah mengalami kenaikan yang cukup tinggi menjadi 8,1% saat ini.

"Produk jenis ini tahun lalu memang sangat bagus. Tapi untuk tahun ini masih negatif dan berpotensi negatifnya akan bertahan sampai akhir tahun," kata dia.

 

Tag : Suku Bunga, reksa dana
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top