AS Tak Bakal Lepas Cadangan Darurat, Harga Minyak di Zona Hijau

Harga minyak merangkak setelah Menteri Energi AS mengatakan akan menahan perilisan cadangan minyak mentah darurat AS sehingga menambah kekhawatiran akan kehilangan pasokan dari Iran dan semakin mengetatkan pasar.
Mutiara Nabila | 27 September 2018 21:03 WIB
Harga minyak naik - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak merangkak setelah Menteri Energi AS mengatakan akan menahan perilisan cadangan minyak mentah darurat AS sehingga menambah kekhawatiran akan kehilangan pasokan dari Iran dan semakin mengetatkan pasar.

Pada perdagangan Kamis (27/9), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) terkerek 0,68 poin atau 0,95% menjadi US$72,25 per barel dan membukukan kenaikan 19,58% secara year-to-date (ytd).

Adapun, harga minyak Brent berada di posis US$81,76 per barel, naik 0,42 poin atau 0,52% dan mencatatkan kenaikan harga hingga 22,27% sepanjang 2018 berjalan.

Menteri Energi AS Rick Perry mengatakan bahwa pemerintah AS tidak punya niatan untuk melepas cadangan minyak darurat AS untuk mencegah lonjakan harga minyak mentah saat sanksi AS kepada Iran mulai berlaku pada 4 November mendatang.

Chief Executive Officer (CEO) Total SA Patrick Pouyanne mengatakan bahwa harga minyak memiliki potensi besar untuk menuju US$100 per barel, tetapi menurutnya hal itu akan membuat permintaan melemah.

Harga minyak AS mulai mendekati titik tertinggi selama empat tahun setelah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memberikan sinyal tidak akan segera meningkatkan produksi untuk mengatasi kesenjangan pasokan karena sanksi AS ke Iran. Hal itu selalu mendapat kritik dari Presiden AS Donald Trump.

Sejumlah bursa perdagangan minyak turut memprediksi kembalinya harga minyak ke US$100 per barel, yang terakhir kali tercapai pada 2014. 

“Pergerakan naik harga minyak terakhir diikuti oleh komentar dari Menteri Perry, dengan pasar yang masih mengharapkan rilis data dari Strategic Petroleum Reserve [SPR] AS,” ungkap Giovanni Staunovo, analis UBS Group AG.

Staunovo menambahkan bahwa sentimen pasar saat ini sangat bullish. Baginya, ketakutan terbesar saat ini diperparah oleh ketidakjelasan jumlah produksi minyak dari Arab Saudi dan bagaimana pasar akan bereaksi pada hal itu.

Menurut Perry, mengalirkan minyak dari cadangan bahan bakar strategis (SPR) memang bisa mencegah harga tapi dampaknya akan sangat kecil dan hanya untuk jangka pendek. Produsen lain seperti Persian Gulf dinilainya cukup mampu untuk mengimbangi kemerosotan pasokan.

Pada awal pekan ini, Trump menuduh OPEC telah 'menghancurkan dunia' setelah organisasi tersebut menyatakan berhenti menjanjikan kenaikan pasokan volume minyak mentah.

Sementara itu, data dari Pemerintah AS menunjukkan adanya kenaikan cadangan minyak sebanyak 1,85 juta barel menjadi 396 juta barel pada pekan lalu, mengacaukan ekspektasi sejumlah analis yang memperkirakan cadangannya malah akan menurun.

Adapun, cadangan minyak di pusat penyimpanan di Cushing, Oklahoma juga mengalami kenaikan untuk pertama kalinya dalam 3 pekan.

“AS yang diperkirakan akan mengandalkan SPR sebagai respons darurat untuk mengendalikan kenaikan harga agaknya belum akan terjadi, melihat sejarahnya dulu bagaimana AS merilis SPR saat benar-benar terjadi perang atau saat terjadi badai,” papar Stephen Innes, Kepala Perdagangan Asia Pasifik di Oanda, Singapura.

Stephen menambahkan, meskipun data minyak AS positif, fakta bahwa pasar masih menantikan kemungkinan penyusutan pasokan dari Iran karena sanksi, masih membuat para investor memberikan sentimen bullish.

Tag : Harga Minyak
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top