Harga Minyak Rebound, Batu Bara Lanjutkan Reli

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak November 2018 ditutup menguat 0,7% atau 0,80 poin di level US$114,75 per metrik ton.
Aprianto Cahyo Nugroho | 27 September 2018 08:06 WIB
Aktivitas di area pertambangan batu bara PT Adaro Indonesia, di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, Selasa (17/10). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara kembali melanjutkan penguatannya pada akhir perdagangan hari keempat berturut-turut, Rabu (26/9/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak November 2018 ditutup menguat 0,7% atau 0,80 poin di level US$114,75 per metrik ton.

Harga batu bara kontrak November melanjutkan penguatan setelah ditutup menguat 1,24% atau 1,40 poin ke level US$113,95 per troy ounce pada sesi perdagangan sebelumnya.

Di bursa ICE Rotterdam, harga batu bara untuk Januari 2019 juga ditutup di zona hijau dengan penguatan 0,2% di level US$102,15 per troy ounce.

Sejalan dengan harga batu bara, harga minyak mentah rebound dari pelemahannya setelah Menteri Energi Amerika Serikat (AS) Rick Perry menyatakan cadangan minyak strategis AS tidak akan disadap untuk meningkatkan pasokan global.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak November naik 50 sen ke level US$72,01 per barel di New York Mercantile Exchange, sekitar 10 menit setelah Perry berkomentar. Adapun minyak Brent untuk pengiriman November naik 42 sen ke level US$81,76 per barel.

Kepada awak media di Washington pada Rabu (26/9/2018), Perry menyatakan bahwa menjual sebagian dari cadangan itu akan memiliki "dampak yang cukup kecil dan jangka pendek”.

Menurutnya, ketika pemberlakukan sanksi menekan minyak mentah Iran keluar dari pasar global, ada peluang bagi produsen minyak mentah utama lainnya untuk mengisi kekosongan pasokan.

“Ini adalah situasi dimana pasar mengharapkan Presiden AS Trump untuk mengeluarkan minyak dari cadangan pada November, tetapi itu tidak akan terjadi,” kata Phil Flynn, analis pasar senior di Price Futures Group di Chicago. “Pasar [minyak] tiba-tiba terlihat jauh lebih ketat.”

Sebelum Perry menyampaikan pernyataannya itu, kontrak berjangka minyak ditutup turun 1% di New York pada perdagangan Rabu (26/9/2018), setelah Energy Information Administration (EIA) melaporkan ekspansi stok minyak mentah untuk pertama kalinya sejak awal Agustus.

EIA melaporkan jumlah persediaan minyak AS meningkat pekan lalu sebesar 1,85 juta barel, berlawanan dengan sebagian besar analis dalam survei Bloomberg yang memperkirakan penurunan.

 

Pergerakan harga batu bara kontrak Januari 2019 di bursa Newcastle

Tanggal                                    

US$/MT

26 September

114,75

(+0,70%)

25 September

113,95

(+1,24%)

24 September

112,55

(+0,45%

21 September

112,05

(+0,49%

20 September

111,50

(-0,40%)

Sumber: Bloomberg

Tag : harga batu bara
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top