Aksi 'Hawkish' The Fed Bisa Pacu Dolar AS, Yen & Euro Tertekan

Aksi Federal Reserve AS tertekan oleh proyeksi kenaikan suku bunganya sendiri dalam jangka panjang, tetapi masih cukup untuk menguatkan dolar AS.
Mutiara Nabila | 27 September 2018 21:22 WIB
Bank sentral AS The Federal Reserve - Reuters/Larry Downing

Bisnis.com, JAKARTA – Aksi Federal Reserve AS tertekan oleh proyeksi kenaikan suku bunganya sendiri dalam jangka panjang, tetapi masih cukup untuk menguatkan dolar AS.

Kepala Strategi Perdagangan Mata Uang Asing NatWest Mansoor Mohi-uddin mengatakan bahwa dolar AS diprediksi masih mendapat kekuatan dari kenaikan suku bunga, dengan euro dan yen masih berisiko menuju nilai terendah masing-masing di US$1,13 per euro dan 115 yen per dolar AS.

Pada Kamis (27/9/2018) euro masih berdiri di US$1,17 dolar AS per euro per dolar AS dan yen di 112,63 per dolar AS. Adapun indeks dolar AS, yang mengukur kekuatannya di hadapan sejumlah mata uang utama mengalami penguatan hingga 0,33% menjadi 94,52.

“The Fed kembali menaikkan suku bunga dan memperkuat ekspektasi jangka panjang untuk kenaikan suku bunga selanjutnya. Hal itu mendorong kemungkinan pengetatan kebijakan moneter AS lebih lanjut dan membuat dolar AS menguat,” ujar Mansoor, dikutip dari Bloomberg, Kamis (27/9/2018).

The Fed berhenti melakukan prediksi kenaikan suku bunganya tahun ini, membuat kenaikan suku bunga The Fed berhasil memberi dorongan pada penguatan dolar AS. Selain itu, pejabat The Fed telah meningkatkan perkiraan mediannya untuk suku bunga jangka panjang menjadi 3% dari 2,87% pada Juni.

The Fed juga menembus kisaran target untuk suku bunga per kuartal dari 2% menjadi 2,25% pada Rabu (26/9) waktu AS.

“Meskipun perkiraan jangka panjangnya diperkuat, bank sentral juga memberikan sinyal bahwa pengetatan kebijakan moneter yang dilakukan saat ini belum terlambat,” lanjut Mansoor.

Dengan bank sentral Eropa (ECB) dan Bank of Japan (BoJ) yang ingin membuat suku bunganya tetap rendah setidaknya sampai 2019, membuat yield-premiumdengan dolar AS terdorong.

Tag : dolar as, Kebijakan The Fed
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top