Harga Minyak Brent Diprediksi Mampu Tembus US$120 Per Barel

Harga minyak Brent terus menjulang lampaui US$80 per barel, sedangkan West Texas hampir mencapai US$72, tertinggi tahun ini. Penyebab utamanya masih pada spekulasi pasar akan sanksi Amerika Serikat kepada Iran yang kemungkinan dapat menurunkan pasokan minyak global dari ekspor Iran dalam jumlah besar.
Mutiara Nabila | 26 September 2018 16:19 WIB
Prediksi Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak Brent terus menjulang lampaui US$80 per barel, sedangkan West Texas hampir mencapai US$72, tertinggi tahun ini. Penyebab utamanya masih pada spekulasi pasar akan sanksi Amerika Serikat kepada Iran yang kemungkinan dapat menurunkan pasokan minyak global dari ekspor Iran dalam jumlah besar.

Analis Central Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan bahwa ketidak inginan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak beserta sekutunya untuk meningkatkan produksi minyak juga membantu mendorong harga meskipun Presiden AS Donald Trump sudah mendesak untuk menurunkan harga.

“Untuk jangka pendek, masih terkait dengan OPEC dan sanksi AS ke Iran. Isu lainnya, jika melihat dari indeks dolar AS yang terkoreksi sejak pertengahan Agustus, adapun kenaikan sejak kemarin ternyata masih di bawah ekspektasi menuju spekulsai kenaikan suku bunga Federal Reserve AS pada akhir pekan ini,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (25/9/2018).

Indeks dolar AS terlihat tidak bergerak di posisi 94,18. Meskipun demikian, bahkan mata uang di emerging market (EM) masih kesulitan untuk menguat. Kondisi dolar AS saat ini dinilai Wahyu juga menjadi salah satu faktor gobal yang mendorong harga minyak.

Wahyu memprediksikan harga minyak West Texas Intermediate maupun Brent memiliki potensi cukup tinggi untuk mencapai US$100 per barel.

“Kenaikan suku bunga AS membuat EM merana sehingga memberikan dampak juga ke sektor perbankan Eropa, nanti akhirnya akan merugikan AS juga dan memicu krisis. Dalam perjalanan menuju krisis, biasanya harga minyak akan naik sebelum akhirnya anjlok,” paparnya.

Wahyu yakin harga minyak meskipun pertumbuhan permintaan melambat masih bisa merangkak ke US$100 – US$120 per barel. Harga tersebut kemudian bisa berujung pada krisis ekonomi global sehingga kemudian diikuti oleh aksi jual minyak dan aset berisiko, membuat harganya bisa kembali anjlok.

“Dulu sudah pernah ada lonjakan harga minyak, diikuti dengan krisis ekonomi global. Tapi hal itu bukan murni karena kenaikan harga minyak, tapi karena kemudian diikuti oleh lonjakan harga-harga komoditas lainnya karena kredit yang menggelembung dan stimulus moneter yang berlebihan,” lanjutnya.

Wahyu menekankan bahwa nantinya yang jadi masalah bukan hanya lonjakan harga minyak itu sendiri tetapi karena harga komoditas lain juga ikut naik. Kenaikan harga minyak dinilai sebagai gejala krisis dan bukan penyebab utama.

“Kalau WTI saja punya potensi tembus US$100 per barel apalagi Brent, mungkin bisa US$120 per barel, intinya yang harus dihindari adalah lonjakan harga secara dramatis,” ungkapnya.

Wahyu menganalogikan kenaikan harga minyak saat ini sebagai gejala krisis seperti gejala penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

“Jadi ibarat krisis itu DBD, kenaikan harga minyak ini demamnya, gejalanya. Sedangkan nyamuknya, atau penyebab utamanya adalah ketidakseimbangan perdagangan global, kelebihan pencetakan uang, utang yang tinggi, dan lain-lain,” jelasnya.

Menurut Wahyu, faktor yang bisa mendorong harga minyak hingga memuncak adalah dari keseluruhan sentimen perekonomian global dan geopolitik apabila semakin parah dan memanas. Jika hanya melihat dari sisi penyusutan pasokan dan sanksi, harga minyak sampai tembus US$100 per barel masih terlampau jauh untuk dicapai.

Wahyu memproyeksikan harga minyak WTI untuk jangka pendek dapat bergerak di kisaran US$68 – US$76 per barel. Sedangkan untuk harga minyak Brent bisa berada di kisaran US$78 – US$86 per barel.

Tag : Harga Minyak
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top