OPEC Tolak Genjot Produksi, Harga Minyak Merangkak

Harga minyak mentah mendekati titik tertinggnya selama 4tahun seiring dengan perkembangan sanksi Amerika Serikat kepada Iran dan ketidakinginan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak untuk mendukung pasokan di pasar minyak global.
Mutiara Nabila | 26 September 2018 16:11 WIB
Harga minnyak di bursa New York saat penutupan Jumat (7/9/2018) waktu setempat atau Sabtu dini hari (8/9 - 2018) waktu Jakarta berdasarkan data Bloomberg.

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah mendekati titik tertinggnya selama 4tahun seiring dengan perkembangan sanksi Amerika Serikat kepada Iran dan ketidakinginan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak untuk mendukung pasokan di pasar minyak global.

Pada perdagangan Rabu (26/9), harga minyak Brent tercatat naik tipis menjadi US$81,88 per barel dengan kenaikan 0,01 poin atau 0,01% dari sesi perdagangan hari sebelumnya.

Sedangkan pada sesi yang sama, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) mengalami susut tipis 0,04 poin atau 0,06% menjadi US$72,24 per barel.

Pada 4 November mendatang, AS akan menargetkan ekspor minyak Iran dalam sanksi yang diberikan dan pihak Washington akan mendesak pemerintah dan perusahaan di seluruh dunia untuk bersama memangkas pembelian minyak ke Teheran.

Kepala Strategi Pasar Komoditas BNP Paribas Harry Tchilinguirian mengatakan bahwa Iran bisa kehilangan volume ekspor dalam jumlah besar, kemudian melihat Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya yang tidak mau meningkatkan produksi, pasar kelihatannya tidak akan sanggup untuk mengisi kesenjangan pasokan.

OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia sebagai salah satu produsen minyak terbesar di dunia, telah melaksanakan pemangkasan produksi sejak 2017.

Saat ini, Inggris, China, Perancis, Jerman, Rusia, dan Iran tengah bekerja sama untuk membentuk mekanisme pembelian baru sehingga bisa tetap melakukan perdagangan meskipun ada sanksi dari AS, tapi sejumlah analis mengatakan bahwa sanksi AS itu akan membuat pasokan sebanyak 1 – 1,5 juta barel per hari tak lagi beredar di pasaran.

“Kami melihat Brent reli menembus US$80 per barel karena fundamentalnya dari sanksi AS ke Iran dan aksi OPEC,” ujar Raphael Mok, analis senior Fitch Soutions, dikutip dari Reuters, Selasa (25/9/2018).

Adapun, Presiden AS Donald Trump telah meminta OPEC dan Rusia untuk menaikkan pasokannya untuk mengisi kemerosotan produksi dari ekspor Iran yang menduduki peringkat ketiga sebagai produsen minyak ternesar di dunia.

Namun, ternyata OPEC dan Rusia sejauh ini masih menolak permintaan tersebut.

“Keputusan apapun yang dibuat oleh organisasi itu [OPEC] saat ini, bahkan dalam pertemuan luar biasa pun hanya akan berlaku setelah pertemuan akhir pada Desember. Hal itu menjadi pendorong potensi lonjakan harga minyak menjadi sangat besar karena pasokan Iran yang semakin surut dan OPEC memilih untuk diam,” papar Tchilinguirian.

Ashley Kelty, analis minyak di Cantor Fitzgerald mengatakan bahwahanrga minyak mentah Brent dapat menyentuh US$90 per barel dalam waktu dekat.

“Kami tidak yakin kalau OPEC akan menaikkan produksinya secara signifikan dalam waktu dekat, karena kapasitas fisiknya yang ada di sistem saat ini tidak cukup besar,” kata Kelty.

Bank of America Merrill Lynch juga menaikkan perkiraan rata-rata harga minyak Brent untuk 2019 dari US$75 per barel menjadi US$80 per barel dan meningkatkan proyeksi harga minyak WTI sebesar US$2 per barel menjadi US$71 per barel.

Bank itu melaporkan bahwa faktor Iran kemungkinan dapat mendominasi pasar untuk waktu dekat dan dapat menyebabkan lonjakan pada harga minyak. Sejumlah analis bank itu juga menyebutkan bahwa kekhawatiran akan permintaan saat ini tidak menjadi fokus bagi pasar.

Tag : Harga Minyak
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top