REKOMENDASI SAHAM: Bukit Asam (PTBA) Sentuh Rp5.400 pada Akhir Tahun?

Upaya agresif PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk. untuk menggenjot kinerja melalui peningkatan produksi dan penjualan diyakini dapat menjaga laju pertumbuhan pendapatan perseroan hingga akhir tahun ini. Lalu, bagaimana dengan pergerakannya sahamnya?
Dara Aziliya | 25 September 2018 07:45 WIB
Aktivitas penambangan batu bara PT Bukit Asam (Persero) Tbk di Tanjung Enim, Sumatra Selatan - Bloomberg/Dadang Tri

Bisnis.com, JAKARTA -- Upaya agresif PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk. untuk menggenjot kinerja melalui peningkatan produksi dan penjualan diyakini dapat menjaga laju pertumbuhan pendapatan perseroan hingga akhir tahun ini. Lalu, bagaimana dengan pergerakannya sahamnya?

Berdasarkan data perseroan, selama periode Januari—Agustus 2018 emiten dengan kode saham PTBA tersebut membukukan volume penjualan sebesar 16,6 juta ton atau meningkat 9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy).

Pada saat yang sama, perseroan berhasil membukukan produksi sebesar 16,5 juta ton atau meningkat 14% (yoy). Adapun, sebesar 51% dari produksi perseroan dipasarkan di pasar dalam negeri.

Berdasarkan data Bloomberg, harga saham PTBA sepanjang tahun berjalan telah meningkat 67,48%. Pada penutupan perdagangan Senin (24/9/2018), harga saham PTBA tercatat melemah 50 poin atau 1,2% ke level Rp4.120.

Dari 20 analis yang disurvei oleh Bloomberg, 15 analis merekomendasikan buy, add, dan outperform dengan rentang target harga Rp4.300—Rp5.400. Dua analis merekomendasikan tahansedangkan tiga sisanya merekomendasikan netral.

Analis Maybank Kim Eng Securities Isnaputra Iskandar menyampaikan bahwa perseroan masih merekomendasikan beli saham PTBA dengan target harga Rp5.400. Dia menilai potensi pendapatan perseroan pada tahun ini cukup besar karena kenaikan harga batu bara.

“Baik penjualan maupun produksi perseroan sesuai dengan prediksi kami untuk dapat mencapai25,2 juta ton pada tahun ini. Kenaikan volume produksi didukung oleh kenaikan volume pengangkutan dengan kereta api sebesar 15 juta ton atau meningkat 7% (yoy),” ungkap Isnaputra.

Selain itu, Isnaputra menggarisbawahi PTBA belum menjual kuota domestic market obligation (DMO) perseroan pada perusahaan-perusahaan yang tidak dapat memenuhi kuota aturan DMO. Menurutnya, hal tersebut bukan dikarenakan tidak adanya permintaan, namun karena PTBA sedang menyiapkan prosedur internal untuk transaksi tersebut.

Maybank Kim Eng memprediksi perseroan akan menyelesaikan prosedur internal tersebut pada kuartal IV/2018. Dengan asumsi biaya transfer DMO sebesar US$6 per ton dan volume pengiriman mencapai 3 juta ton—6 juta ton, PTBA berpotensi membukukan kenaikan pendapatan 4%—8% pada tahun ini.

Sementara itu, analis OCBC Sekuritas Inav Haria Chandra menyampaikan bahwa pada 2018 PTBA memiliki rencana ekspansi yaitu memperbesar kontribusi ekspornya pada pendapatan perseroan, dengan fokus pada produk medium. Pasar yang potensial bagi produk tersebut adalah negara-negara Asia Tenggara.

Benchmark untuk harga batu bara telah mencapai rata-rata US$108 per ton atau meningkat 28% sepanjang tahun berjalan. Kenaikan itu disebabkan beberapa faktor seperti kebutuhan China dan Jepang yang meningkat. Dengan situasi tersebut, kecil kemungkinan harga batu bara dapat terkoreksi dalam jangka menengah,” ungkap Inav.

Inav merekomendasikan beli saham PTBA dengan target harga sebesar Rp4.550 atau mencerminkan price earning ratio (PER) 9 kali pada 2019. Secara fundamental, PTBA diyakini dapat mempertahankan pertumbuhan stabil.

Tag : bukit asam, kinerja emiten
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top