Sariguna Primatirta (CLEO) Rancang Private Placement

Produsen minuman dalam kemasan, PT Sariguna Primatirta Tbk. (CLEO) berencana untuk melakukan penambahan modal tanpa memberikan hak memesan efek terlebih dahulu atau private placement.
Novita Sari Simamora | 24 September 2018 20:07 WIB
Manajemen CLEO - web

Bisnis.com, JAKARTA - Produsen minuman dalam kemasan, PT Sariguna Primatirta Tbk. berencana untuk melakukan penambahan modal tanpa memberikan hak memesan efek terlebih dahulu atau private placement.

Sekretaris Perusahaan Sariguna Primatirta, Lukas Setio Wongso Wong mengungkapkan aksi private placement digunakan untuk memperkuat struktur permodalan perseroan. Pada 7 November 2018, emiten berkode saham CLEO berencana melakukan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) di Surabaya untuk meminta persetujuan aksi korporasi tersebut.

"Dalam rangka meningkatkan kinerja usaha, perseroan merasakan perlu untuk memperkuat struktur permodalan. Perseroan merencanakan untuk melaksanakan PMTHMETD," tulisnya dalam keterbukaan informasi, Senin (24/9/2018).

Saat dikonfirmasi, Direktur Sariguna Primatirta Belinda Natalia tak menampik adanya rencana private placement perseroan. Akan tetapi, pihaknya masih enggan memerincikan nilai yang dibutuhkan untuk meningkatkan modal perseroan. "Infonya cepat sekali," tuturnya.

Dalam catatan Bisnis, CLEO berencana untuk meningkatkan utilisasi pabrik seiring menggemuknya permintaan. Wakil Direktur Utama Sariguna Primatirta Melisa Patricia mengatakan, perseroan juga segera melakukan penambahan lahan baru untuk memperluas atau membangun pabrik baru. Namun, rencana tersebut masih dalam pembahasan internal perusahaan.

Melisa pun mengatakan perseroan akan menambah utilisasi. Pada semester I/2018, utilisasi pabrik perseroan hanya 47% menjadi 70%. Emiten bersandi saham CLEO memiliki pabrik di Ngoro, Kendari dan Pandaan.

Pada semester I/2018, CLEO membukukan penjualan senilai Rp362,21 miliar atau naik 27% year on year. Dari sisi segmen, penjualan air minum dalam kemasan (AMDK) galon mencapai Rp131,04 miliar, tumbuh 22,33% dari posisi Rp107,12 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penjualan AMDK botol dan gelas per Juni 2018 masing-masing senilai Rp122,14 miliar dan Rp106,88 miliar, dengan pertumbuhan masing-masing 29,63% dan 60,19% year on year. Sementara itu, segmen lainnya mengalami penurunan hingga 80% year on year menjadi Rp2,14 miliar.

Sementara itu, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk CLEO per semester I/2018 senilai Rp27,73 miliar, tumbuh 60,5%, dari posisi Rp17,27 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Hingga akhir 2018, CLEO mengincar pertumbuhan penjualan hingga 62% hingga akhir 2018 atau menjadi Rp1 triliun. Untuk memuluskan target yang ditetapkan, CLEO mengalokasikan belanja modal senilai Rp200 miliar untuk pembelian tanah dan bangunan, mesin-mesin dan peralatan pabrik, armada kendaraan dan investasi galon kosong.

Dia mengatakan perseroan akan mengoperasian pabrik Ngoro dan pabrik Kendari. Grup Tanobel memproyeksikan, jumlah kapasitas produksi untuk pabrik baru di Ngoro adalah 250 juta liter dan untuk pabrik di Kendari sebesar 150 juta liter. Selain itu, perseroan juga akan melakukan perluasan pabrik di Pandaan dengan menambah kapasitas produksi sebesar 250 juta liter.

Tag : kinerja emiten
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top