Dolar AS Loyo, Celah Bagi Penguatan Rupiah

Bank Indonesia optimistis rupiah diperkirakan akan terus menguat di tengah tekanan pelemahan dolar AS dalam skala global.
Hadijah Alaydrus | 21 September 2018 15:33 WIB
Karyawan memperlihatkan mata uang rupiah di salah satu bank di Jakarta. - JIIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia optimistis rupiah diperkirakan akan terus menguat di tengah tekanan pelemahan dolar AS dalam skala global. 

Nanang Hendarsah, Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) menuturkan keyakinan ini didorong oleh dua faktor yang terjadi di pasar global.

Pertama,  bank sentral negara maju  seperti bank sentral Norwegia dan Bank Nasional Swiss mulai menaikkan suku bunga, dan diikuti oleh bank sentral  Australia dan Swedia yang mulai memberikan sinyal akan menaikkan suku bunga. 

"Ini merupakan awal sebuah proses dimana arah kebijakan moneter negara maju  akan mulai convergence sehingga AS bukan satu satunya negara di kelompok negara maju dengan suku bunga yang tengah meningkat," papar Nanang, Jumat (21/9/2018).

Bahkan dengan kemungkinan naiknya suku bunga Fed Fund pada pertemuan komite kebijakan moneter the Fed (FOMC)  pekan depan, beberapa analisa mulai meragukan momen ini akan menjadi penopang penguatan dolar. 

Indeks dolar (DXY) yang pada Mei 2018 mencapai 95,6  terus melemah menembus 94,0 dan pada sesi perdagangan New York mencapai 93,8. "Ini juga mendorong kurs NDF Rupiah di pasar internasional terus turun dalam sepekan dari 15.400 ke 14.840," ujar Nanang.

Selain itu, dia melihat  turunnya kurs NDF ini juga dipengaruhi oleh kurs spot rupiah di dalam negeri yang tidak berlanjut melemah. Tetapi, lebih ke arah terjaga pada level yang relatif stabil.

Faktor kedua yang dilihat BI adalah pulihnya risk apetite atau minat penempatan dana investor global ke instrumen finansial emerging market yang sebelumnya dihempaskan karena berisiko tinggi, sehingga menjadi terlalu undervalued.  

"Misalnya, yield obligasi pemerintah Indonesia yang sempat menyentuh 8,7% sudah cukup menarik,  di tengah suku bunga implied swap  rupiah yang tetap tetap stabil [meskipun kurs NDF naik]," kata Nanang.

Suku bunga implied swap adalah suku bunga dolar ditambah premi swap yang dapat diartikan biaya meminjam rupiah (cost of funding).

Pada Kamis 20 September 2018, BI melihat arus masuk modal asing ke obligasi negara atau SBN mencapai Rp 2,8 triliun.  "Ini mencerminkan,  minat penempatan dana asing di obligasi negera kembali meningkat." 

Dengan masuknya kembali dana para fund manager global ke pasar negara  berkembang atau emerging market akibatnya memicu penjualan obligasi AS. Alhasil, yield obligasi pemerintah AS naik tembus 3,0%. 

Dia yakin adanya rebalancing portofolio global ini akan membuat hubungan antara yield obligasi AS dan dolar kembali ke teritori negatif.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top