Mirae Asset Sekuritas: SUN Terapresiasi Penguatan Rupiah

Mirae Asset Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) pada perdagangan Jumat (21/9/2018), secara umum menguat terbatas dan yield turun terbatas didorong oleh apresiasi rupiah terhadap dolar AS di tengah meredanya sentimen negatif dari perang dagang. 
Emanuel B. Caesario | 21 September 2018 10:07 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA -- Mirae Asset Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) pada perdagangan Jumat (21/9/2018), secara umum menguat terbatas dan yield turun terbatas didorong oleh apresiasi rupiah terhadap dolar AS di tengah meredanya sentimen negatif dari perang dagang. 
 
Analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas Indonesia Dhian Karyantono menyatakan investor disarankan untuk merealisasikan keuntungan (profit taking) terlebih dulu guna mengantisipasi kemungkinan adanya tekanan harga jelang lelang SUN dan pertemuan Fed Open Market Committee (FOMC) Meeting, pekan depan. 
 
Selain itu, nanti malam juga akan dirilis data PMI Manufaktur AS per September 2018, di mana berdasarkan konsensus Bloomberg diproyeksi meningkat ke level 55 poin dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang berada di posisi 54,8 poin. Hal ini berpotensi memberikan sentimen negatif bagi pergerakan harga SUN pada pekan depan.

"Secara khusus, adanya seri baru untuk kategori 5 tahun dan 10 tahun yang ditawarkan di dalam lelang SUN pekan depan, diperkirakan menawarkan yield yang lebih tinggi dibandingkan dengan SUN seri benchmark 5 tahun (FR0063) dan 10 tahun (FR0064), yang pada akhirnya bisa membatasi kenaikan harga dari kedua seri benchmark tersebut," paparnya dalam riset harian, Jumat (21/9). 
 
Berikut proyeksi pergerakan harga dan yield seri-seri acuan hari ini [harga (yield)]:
 
FR0063 (15 Mei 2023):  90,40 (8,14%) -  90,70  (8,06%)
FR0064 (15 Mei 2028):  86,20 (8,22%) -  86,60  (8,16%)
FR0065 (15 Mei 2033):  84,80 (8,45%) -  85,25  (8,39%)
FR0075 (15 Mei 2038):  88,30 (8,76%) -  88,60  (8,72%)
 
Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan menguat di rentang Rp14.740-Rp14.862.
 
"Kami merekomendasikan jual untuk seri-seri FR0063, FR0059, FR0064, FR0065, FR0072, dan FR0075," lanjut Dhian.
 
Pada perdagangan Kamis (20/9), harga SUN kembali meningkat. Meredanya tekanan dari isu perang dagang mendorong penguatan rupiah terhadap dolar AS 0,18% ke level Rp14.849.
 
Apresiasi rupiah ini membuat harga SUN melanjutkan penguatan. SUN tenor pendek mengalami kenaikan harga rata-rata 6,73 bps. 
 
Sementara itu, SUN tenor menengah dan panjang mengalami peningkatan harga rata-rata sebesar 59,52 bps dan 170,16 bps. 
 
Dengan demikian, yield SUN secara umum kembali menurun. Benchmark SUN 10 tahun turun ke level 8,19%, lebih rendah dari hari sebelumnya yang berada di level 8,21%, sekaligus level terendah sejak akhir bulan lalu.
 
Di pasar global, yield US Treasury 10 tahun stagnan dan indeks dolar AS turun ke level terendah sejak pertengahan Juni 2018.
 
Imbal hasil US Treasury 10 tahun pada perdagangan terakhir cenderung stagnan di level 3,06% yang didorong oleh bauran sentimen antara sentimen pengerek yield yang berasal dari data klaim tunjangan pengangguran AS dan sentimen penekan yield US Treasury yang disebabkan oleh menurunnya permintaan terhadap aset safe haven serta penjualan rumah bekas yang stagnan pada Juli 2018.

Data klaim tunjangan pengangguran AS ternyata lebih rendah dari ekspektasi pasar, sedangkan turunnya permintaan terhadap aset safe haven terjadi di tengah meredanya kekhawatiran atas perang dagang.  

Sementara itu, indeks dolar AS mengalami penurunan yang cukup signifikan ke level 93,89 poin atau level terendah sejak pertengahan Juni 2018.  Secara umum, kondisi ini masih didorong oleh sentimen meredanya kekhawatiran perang dagang dan penguatan poundsterling, yang memiliki share cukup besar dalam indeks dolar AS.
 

Tag : surat utang negara
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top