MNC Sekuritas: Harga SUN Berpeluang Naik Terbatas

MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) masih berpeluang untuk mengalami kenaikan pada perdagangan Jumat (21/9/2018).n 
Emanuel B. Caesario | 21 September 2018 09:31 WIB
Ilustrasi Surat Utang Negara - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA -- MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) masih berpeluang untuk mengalami kenaikan pada perdagangan Jumat (21/9/2018).
 
Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra mengatakan meski berpeluang meningkat, tapi kenaikan harganya akan semakin terbatas, seperti yang sudah terlihat pada pergerakan harga pada Kamis (20/9).
 
Potensi keterbatasan ini terjadi di tengah rencana lelang penjualan SUN pada pekan depan, di mana pemerintah mulai menawarkan seri baru yang akan dijadikan seri acuan tahun depan, yaitu FR0077 untuk tenor 5 tahun dan FR0078 untuk tenor 10 tahun. 
 
Selain itu, agenda Federal Open Market Committee (FOMC) Meeting oleh The Fed dan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang akan digelar pekan depan juga akan menjadi fokus perhatian investor. 
 
Made menambahkan terbatasnya pergerakan harga SUN pada hari ini akan turut dipengaruhi oleh kembali naiknya imbal hasil US Treasury. Dia menyarankan investor untuk tetap mencermati pergerakan harga SUN di pasar sekunder. 
 
"Investor dapat memanfaatkan momentum kenaikan harga SUN untuk melakukan trading jangka pendek di tengah masih berpeluangnya penguatan mata uang rupiah seiring dengan pelemahan dolar AS terhadap mata uang utama dunia," papar Made dalam riset harian, Jumat (21/9).
 
Beberapa seri yang dapat dipilih untuk transaksi hari ini di antaranya seri ORI013, SR009, PBS016, PBS002, FR0036, FR0031, FR0034, FR0053, FR0061, FR0043, FR0063, FR0046, FR0070, dan FR0047. 

Pada Kamis (20/9), perubahan harga terjadi di kisaran 5-70 bps sehingga mendorong perubahan tingkat yield hingga 15 bps.

Harga SUN bertenor pendek naik antara 3-8 bps, sehingga mendorong penurunan imbal hasil sebesar 15 bps. 
 
Harga SUN tenor menengah meningkat 20 bps, sehingga yield turun antara 1-5 bps. Sementara itu, harga SUN tenor panjang naik di kisaran 5-70 bps, dengan penurunan imbal hasil antara 1-9 bps.

Selain didukung oleh penguatan nilai tukar rupiah atas dolar AS, kenaikan harga juga didorong kembalinya pembelian oleh investor asing. 

Berdasarkan data kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) yang dapat diperdagangkan, investor asing mencatatkan pembelian bersih senilai Rp893 miliar pada Selasa (18/9) dan Rp1,58 triliun pada Rabu (19/8).
 
Namun, investor asing masih mencatatkan penjualan bersih SBN sebesar Rp18,63 triliun pada per Rabu (19/8). 

Kenaikan harga yang terjadi pada perdagangan kemarin mendorong penurunan yield SUN seri acuan sebesar 6 bps di level 8,44% untuk tenor 15 tahun dan sebesar 2 bps untuk tenor 5 tahun ke level 8,13%. 
 
Untuk seri acuan dengan tenor 10 tahun, penurunan imbal hasilnya tercatat sebesar 3 bps di level 8,18% dan tenor 20 tahun mengalami penurunan 4 bps di level 8,75%.
 
Arah pergerakan harga yang bervariasi juga didapati pada perdagangan SUN dengan denominasi dolar AS di tengah masih berlanjutnya kenaikan imbal hasil US Treasury. 
 
Harga INDO28 dan INDO43 masing-masing naik 15 bps dan 30 bps, sehingga mendorong penurunan yield kedua seri tersebut masing - masing 2 bps ke level 4,511% dan 5,11%.  Adapun harga INDO23 turun terbatas, sehingga tingkat imbal hasilnya berada pada level 4,128%.
 
Volume perdagangan SBN yang dilaporkan pada perdagangan Kamis (20/9) adalah Rp9,36 triliun dari 36 seri SBN yang diperdagangkan. Secara keseluruhan, volume perdagangan seri acuan mencapai Rp3,15 triliun. 
 
Obligasi Negara seri FR0072 masih menjadi SUN dengan volume perdagangan terbesar yakni Rp1,36 triliun dari 96 kali transaksi di harga rata-rata 99,25%. Selanjutnya, Obligasi Negara seri FR0063 dengan nilai Rp1,2 triliun dari 49 kali transaksi di harga rata-rata 90,58%. 
 
Sementara itu, Project Based Sukuk seri PBS013 menjadi sukuk negara dengan volume perdagangan terbesar yaitu Rp769 miliar dari 23 kali transaksi di harga rata-rata 99,58%. Seri PBS015 berada di posisi berikutnya dengan volume Rp92 miliar dari 4 kali transaksi di harga rata-rata 85,16%.
 
Untuk obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan sebesar Rp1,06 triliun dari 53 seri yang diperdagangkan. 
 
Obligasi Berkelanjutan Indonesia Eximbank II Tahap VII Tahun 2016 Seri B (BEXI02BCN7) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar yakni senilai Rp120 miliar dari 8 kali transaksi di harga rata-rata 100,55%.

Selanjutnya, perdagangan Obligasi Infrastruktur Green Bond Berkelanjutan I Sarana Multi Infrastruktur Tahap I Thn 2018 Seri A (GNSMII01ACN1) senilai Rp100 miliar dari 3 kali transaksi di harga rata-rata 100%.
  
Dari perdagangan surat utang global, pergerakan yield cukup bervariasi di mana imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun sempat menyentuh level 3,096%. Ini merupakan posisi tertinggi sejak 18 Mei 2018, merespons data sektor tenaga kerja AS.
 
Secara teknikal, harga SUN masih bergerak dalam tren kenaikan harga yang didapati pada keseluruhan tenor. Kenaikan harga dalam beberapa hari terakhir juga telah mendorong harga SUN bergerak menjauhi area jenuh jual (oversold) menuju area jenuh beli (overbought), terutama pada tenor 1-15 tahun.

Tag : surat utang negara
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top