Kekhawatiran Perang Dagang Mereda, Kurs Rupiah Menguat

Rupiah kembali menguat, masih dikisaran Rp14.800-an per dolar Amerika Serikat setelah dolar AS mundur dari penguatannya karena China melakukan balasan kepada tarif AS dengan tarif kepada barang AS senilai US$60 miliar.
Mutiara Nabila | 20 September 2018 20:10 WIB
Transkasi penukaran uang rupiah di sebuah money changer di Jakarta, Selasa (4/9/2018). - Reuters/Willy Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA – Rupiah kembali menguat, masih dikisaran Rp14.800-an per dolar Amerika Serikat setelah dolar AS mundur dari penguatannya karena China melakukan balasan kepada tarif AS dengan tarif kepada barang AS senilai US$60 miliar.

Pada penutupan perdagangan Kamis (20/9), rupiah mencatatkan penguatan 26 poin atau 0,17% menjadi Rp14.849 per dolar AS dan tercatat melemah di hadapan dolar AS sebesar 8,7% secara year-to-date (ytd).

Analis Asia Trade Point Futures (ATPF) Deddy Yusuf Siregar mengatakan bahwa selain pelemahan dolar AS, sentimen yang mendorong penguatan rupiah kali ini datang dari penguatan mata uang Asia lainnya seperti India dan China.

“Setelah Beijing mengatakan tidak akan membiarkan devaluasi mata uang yuan untuk menghadapi perang tarif dengan AS, nampaknya pasar merespon positif dan memicu adanya aksi profit taking terhadap dolar AS, menyebabkan dolar AS melemah,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (20/9/2018).

Deddy menambahkan bahwa hal itu juga sedikit memulihkan kepercayaan terhadap aset beresiko termasuk mata uang Asia yg di dalamnya terdapat mata uang rupiah.

Adapun, asentimen domestik datang dari kebijakan Bank Indonesia yang di kabarkan segera mengeluarkan aturan nondeliverable forward (NDF).

“Karena kebijakan itu memungkinkan bank dengan nasabah atau pihak asing dapat melakukan transaksi lindung nilai atas risiko nilai tukar. Intinya investor bisa lebih berani tranasaksi di Indonesia,” lanjutnya.

Deddy memproyeksikan untuk jangka panjang atau hingga akhir tahun rupiah masih berpotensi melemah dan bisa bergerak di kisaran Rp14.900 – Rp15.000 per dolar AS.

Selain itu, Kepala Bidang Riset PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa penguatan rupiah kali ini masih karena dampak perang dagang yan melemahkan dolar AS, outlook kenaikan suku bunga AS tahun depan, krisis ekonomi di beberapa negara dan sorotan ke current account deficit (CAD) Indonesia.

Untuk jangka panjang, Ariston menyebutkan pergerakan rupiah masih tergantung pada perubahan kondisi eksternal hasil dari perbaikan kondisi internal Indonesia.

Ariston memproyeksikan hingga akhir tahun rupiah bisa bergerak di posisi Rp14.550–Rp15.200 per dolar AS.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top