Dolar AS Menuju Kisaran Terendah dalam Tujuh Pekan, Rupiah Rebound

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 26 poin atau 0,17% ke level Rp14.849 per dolar AS, setelah dibuka rebound dengan penguatan 30 poin atau 0,20% ke level Rp14.845 per dolar AS.
Aprianto Cahyo Nugroho | 20 September 2018 17:29 WIB
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Senin (2/7/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah ditutup rebound pada akhir perdagangan hari ini, Kamis (20/9/2018), seiring dengan pelemahan indeks dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 26 poin atau 0,17% ke level Rp14.849 per dolar AS, setelah dibuka rebound dengan penguatan 30 poin atau 0,20% ke level Rp14.845 per dolar AS.

Mata uang Garuda ditutup menguat setelah pada akhir perdagangan Rabu (19/9), nilai tukar rupiah ditutup melemah 20 poin atau 0,13% di posisi Rp14.875 per dolar AS.

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak pada kisaran Rp14.820 – Rp14.855 per dolar AS.

Dilansir dari Bloomberg, rupiah menguat bersama dengan mayoritas mata uang emerging market di Asia saat aksi jual oleh investor asing atas obligasi dan saham di Indonesia mereda.

Aksi jual asing atas obligasi Indonesia melambat dalam sepekan terakhir setelah imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun turun.

Rupiah memimpin pergerakan mata uang lain di Asia yang juga mayoritas menguat hari ini, disusul ringgit Malaysia yang terapresiasi 0,16.

Sementara itu, indeks dolar AS yang melacak pergerakan greenback terhadap mata uang utama lainnya terpantau melemah 0,22% atau 0,21 poin ke level 94,327 pada pukul 17.02 WIB.

Sebelumnya, indeks dolar dibuka di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,022 poin atau 0,02% di level 94,559, setelah pada perdagangan Rabu (19/9) berakhir terkoreksi 0,11% atau 0,103 poin di posisi 94,537.

Dolar AS bergerak di kisaran level terendahnya dalam tujuh pekan pada perdagangan pagi ini, sebagian dikarenakan permintaan untuk mata uang ini, yang memiliki sifat sebagai aset safe haven, berkurang.

Berkurangnya minat terhadap aset safe haven merupakan akibat dari meredanya kegelisahan pasar bahwa rencana pemberlakuan tarif dari AS dan China tidak sekuat seperti yang dikhawatirkan.

Pemerintah China menyatakan akan mengenakan tarif balasan terhadap barang-barang asal AS senilai US$60 miliar. Langkah ini merespons pengumuman AS untuk memberlakukan tarif 10% terhadap barang-barang asal China senilai US$200 miliar, lebih kecil dari usulan tarif sebelumnya sebesar 25%.

“Langkah AS yang memilih tarif lebih rendah tampaknya menunjukkan sedikit kelonggaran untuk China,” ujar Yukio Ishizuki, pakar strategi mata uang senior di Daiwa Securities, seperti dikutip dari Reuters.

“Di atas semua itu, pasar berharap bahwa kedua belah pihak akan melanjutkan pembicaraan dan putaran tarif lain dapat dihindari.”

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top