Ada Kebijakan B20, Layakkah Saham Komoditas Dikoleksi? Ini Analisisnya

Selagi menunggu implementasi kebijakan B20 yang sempurna, pergerakan kinerja saham komoditas CPO ini akan kembali berkiblat pada polemik produksi CPO, aktifitas permintaan impor dan ekspor, hingga pengaruh terhadap harganya sendiri.
M. Taufikul Basari | 20 September 2018 16:37 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah saham berbasis komoditas, seperti perkebunan dan produsen sawit, dalam kurun waktu 1 bulan terakhir melejit. Tak heran, pundi-pundi kantong pengoleksi saham komoditas kian gemuk.

Head of Research Reliance Sekuritas Lanjar Nafi menjelaskan, saham-saham produsen minyak kelapa sawit yang naik signifikan selama Agustus diantaranya AALI (+24,1%), LSIP (+38,8%), TBLA (+30,9%), SIMP (+5,6%)dan SSMS (+5,3%) .

Kenaikan harga saham itu imbas dari kebijakan pemerintah soal pencampuran 20% minyak sawit ke BBM jenis solar yang akan berlaku pada solar subsidi dan solar non-subsidi per 1 September 2018. 

Kebijakan itu diklaim bisa menghemat devisa dalam impor minyak dengan target US$2,3 miliar hingga akhir tahun.

“Sehingga investor berspekulasi kebijakan ini akan menambah permintaan dan konsumsi kelapa sawit dalam negeri sehingga berpengaruh pada kenaikan harga CPO di dalam negeri yang menguntungkan para produsen CPO,” ujar Lanjar, dalam rilisnya, Kamis (20/9/2018).

Lalu, apakah di tengah tren kenaikan itu, saham komoditas layak dikoleksi?

Lanjar tetap mewanti-wanti, karena setelah diberlakukannya kebijakan B20, ternyata terdapat berbagai kendala dalam sistem pengangkutan kapal dan distribusi hingga pro dan kontra terhadap mesin mobil solar yang diklaim dengan adanya 20% campuran CPO akan memperpendek umur filter bahan bakar.

“Hal tersebut yang mendasari alasan investor untuk melakukan aksi profit taking pada bulan ini setelah pada bulan Agustus menguat signifikan,” ucapnya.

Secara historis, dijelaskan Lanjar, trend bearish dengan kondisi terkoreksi masih cukup membayangi saham-saham produsen CPO dalam negeri.

Alasannya, terlepas dari sentimen dalam negeri mengenai kebijakan pemerintah, harga CPO dunia sendiri saat ini bergerak bearish hingga level terendah pada 2018. Di bursa berjangka Kuala Lumpur harga CPO tercatat 2.176 ringgit/ton pada 19 september 2018 dengan return year to date -13%.

Dia memprediksi, akibat sentimen dari ketegangan perdagangan China dan produksi minyak kelapa sawit yang lebih banyak dari perkiraan, berpotensi oversupply.

Ke depan, pergerakan harga saham komoditas akan sangat dipengaruhi oleh implementasi kebijakan B20 pemerintah dalam fase distribusi jika terdapat perbaikan.

Selagi menunggu implementasi kebijakan B20 yang sempurna, pergerakan kinerja saham komoditas CPO ini akan kembali berkiblat pada polemik produksi CPO, aktifitas permintaan impor dan ekspor, hingga pengaruh terhadap harganya sendiri.

Untuk itu, Lanjar pun mewanti-wanti agar investor lebih berhati-hati dalam menentukan keputusan investasi jangka menengah dan panjang. Pasalnya, kondisi pasar masih berpeluang bearish menanti tahun politik 2019, terlepas dari sentimen global yang terus mengkhawatirkan.

Kata Lanjar, sangat disarankan untuk melakukan trading jangka pendek dengan terus meng-update informasi, disiplin membatasi resiko, dan terus memperhatikan pergerakan harga saham.

“Untuk investor jangka pendek akan selalu ada peluang di saat market mengalami sell off besar-besaran dengan teknikal rebound. Untuk investor jangka menengah hingga panjang cukup riskan untuk buy on hold jangka panjang di saat kondisi pasar sedangan mengalami trend bearish,” jelasnya.

Dari analisis riset Reliance Sekuritas, situasi politik jelang Pemilu 2019, tidak begitu terpengaruh signifikan terhadap saham berbasis komoditas. Hanya saja pengaruh dari tingkat kepercayaan investor pada instrumen saham yang akan bergejolak menghadapi Pemilu 2019.

Tag : rekomendasi saham, harga cpo
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top